Skenario Terburuk Tekanan Harga Minyak Dunia Imbas Perang AS-Israel vs Iran
Harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel akibat ketegangan global dan penutupan Selat Hormuz, memicu risiko stagflasi.
Editor:
Glery Lazuardi

TEKANAN harga minyak dunia semakin mengkhawatirkan. Harga minyak dunia untuk kategori crude oil West Texas Intermediate (WTI) yang diproduksi di Amerika Serikat (AS) sempat mengalami kenaikan sebesar 31 persen pada Senin, 9 Maret 2026.
Kemudian ditutup melemah 17 persen, menjadi 101,505 dolar Amerika Serikat (AS) untuk jenis WTI dan brent sebesar 106,363 dolar AS per barel.
Secara year-to-date (ytd), harga minyak dunia saat ini, Selasa, 10 Maret 2026, dibandingkan dengan harga minyak di akhir tahun 2025 menunjukkan kenaikkan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 56,63 persen untuk jenis WTI dan 54,25 persen untuk jenis brent.
Tendensi kenaikan harga minyak dunia akibat penutupan selat Hormuz membahayakan perekonomian karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus menaikkan inflasi.
Fenomena ini yang disebut sebagai stagflasi, yaitu stagnasi pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh inflasi tinggi.
Ketidakpastian perekonomian global akibat kenaikan harga minyak dunia bukan hal baru.
Hal ini pernah terjadi sejak era 1970-an, 1980-an dan awal 1990-an. Pada saat itu, perekonomian global sangat tergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah (Timteng) yang logistiknya melalui selat Hormuz.
Fenomena tekanan kenaikan harga minyak dunia pada tahun 1970 – 1990-an dengan saat ini sangat berbeda. Hal ini tercermin pada tingkat sensitifitas kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang semakin kecil.
Hasil penelitian The Federal Reserve of Dallas yang dipublikasikan pada September 2021 menunjukkan bahwa pada era 1970-an, kontribusi minyak bumi dalam aktifitas ekonomi sangat besar yang menyebabkan sensitifitasnya terhadap kenaikan inflasi juga besar.
Pada era 1970-an, terdapat lebih dari 1 barel minyak bumi dalam setiap 1.000 dolar AS Gross Domestic Product (GDP) AS. Kemudian, pada tahun 2015, nilainya menurun menjadi hanya 0,4 barel minyak bumi dalam setiap 1.000 dolar AS GDP AS.
Permasalahan utamanya sekarang adalah apakah sifat tekanan kenaikan harga minyak dunia akan berlangsung lama (bersifat permanen) atau merupakan respon kepanikan pelaku pasar yang berlangsung singkat (bersifat temporer)?
Hasil riset The Federal Reserve of Dallas menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dunia untuk jenis WTI dan brent hingga di atas 100 dolar AS per barel selama tiga bulan berturut-turut akan menaikkan inflasi AS sebesar 3,0 persen.
Setelahnya, efek tekanan harga minyak dunia akan menghilang.
Sementara, efek tekanan kenaikan harga minyak dunia terhadap advanced economies (negara maju) dan Emerging Market Economies (EMEs), seperti Indonesia, Korea, Euro, Jepang, Afsel, dan Turkiye berbeda-beda satu sama lain.
Hasil simulasi beberapa lembaga pemeringkat internasional, seperti Fitch Rating menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,1 persen, Korea 0,9 persen, Euro, 0,5 persen, Jepang 0,5 persen, Afsel 0,7 persen, dan Turkiye 0,7 persen.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan