Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Perang Iran vs Israel: Konflik Regional atau Strategi Elite Global

Konflik Iran–Israel bukan sekadar keamanan regional, tapi juga perebutan energi, ekonomi, dan pengaruh global.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Perang Iran vs Israel: Konflik Regional atau Strategi Elite Global
Canva/Tribunnews.com
PERANG IRAN ISRAEL - Ilustrasi perang Iran dengan Israel yang dibuat pada Sabtu (21/6/2025). Konflik Iran–Israel bukan sekadar keamanan regional, tapi juga perebutan energi, ekonomi, dan pengaruh global. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Eko Prasetyo
Penulis adalah lulusan S1 Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

SETIAP perang selalu memiliki dua cerita. Yang pertama adalah cerita resmi: tentang keamanan, stabilitas, dan hak untuk membela diri. 

Yang kedua adalah cerita yang jarang diucapkan secara terbuka—tentang energi, ekonomi, dan perebutan pengaruh global.

Konflik Iran–Israel yang meledak pada akhir Februari 2026 kemungkinan besar juga memiliki dua wajah tersebut.

Di permukaan, operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dijelaskan sebagai upaya menahan ancaman Teheran terhadap keamanan kawasan. 

Namun jika melihat konsekuensi geopolitik dan ekonomi yang muncul setelahnya, sulit untuk tidak bertanya: apakah konflik ini hanya tentang keamanan, atau juga tentang strategi global yang lebih besar?

Dalam politik internasional, perang jarang berdiri sendiri. Ia sering kali menjadi bagian dari permainan kekuatan yang lebih luas.

Ketika Krisis Menggerakkan Pasar Energi

Rekomendasi Untuk Anda

Begitu ketegangan meningkat dan ancaman terhadap Selat Hormuz mencuat, pasar energi global langsung bereaksi. 

Jalur laut sempit di Teluk Persia itu merupakan salah satu arteri energi paling vital di dunia. 

Sekitar seperempat perdagangan minyak global melewati perairan tersebut. Ketika risiko gangguan meningkat, harga minyak melonjak. 

Importir energi di Eropa dan Asia mulai khawatir tentang keamanan pasokan mereka. Ketidakpastian pun menjalar ke seluruh pasar energi dunia.

Dalam situasi seperti ini, satu aktor tiba-tiba memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat: Amerika Serikat.

Selama satu dekade terakhir, revolusi minyak serpih telah mengubah peta energi global. Amerika tidak lagi sekadar konsumen energi terbesar dunia, tetapi juga menjadi salah satu eksportir utama minyak dan gas.

Namun minyak serpih memiliki satu kelemahan: biaya produksinya relatif lebih Ɵnggi dibanding minyak konvensional dari Timur Tengah

Dalam kondisi harga rendah, banyak produsen shale oil menghadapi tekanan.

Konflik mengubah persamaan itu. Ketika harga minyak dunia naik, industri energi Amerika kembali memperoleh napas. 

Halaman 1/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas