Memadankan Bara Api Peperangan Timur Tengah
Perang Timur Tengah kian meluas, ganggu energi, logistik global, dan tekan ekonomi Indonesia, pemerintah diminta siapkan strategi ketahanan nasional
Editor:
Glery Lazuardi
Singapura menyebut gangguan di Hormuz sebagai "Asian Crisis". Bagi kawasan Asia-Pasifik, perang ini guncangan ganda, energi mahal dan pelemahan mata uang sistemik. Indonesia berada di titik episentrum risiko itu.
Data menunjukkan sekitar 25% impor minyak mentah (crude) dan 30% impor LPG bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Setiap kenaikan satu dolar pada harga Brent menambah beban subsidi energi dan menekan nilai tukar Rupiah.
Logistik global terganggu menaikkan harga bahan baku industri secara masif, mulai dari petrokimia hingga pupuk. Ini ancaman nyata bagi ketahanan pangan dan stabilitas harga domestik.
Jika tidak diantisipasi, biaya freight yang tinggi akan bermuara pada kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Strategi Ketahanan Nasional
Indonesia tidak boleh menunggu atau sebaliknya bersikap reaktif. Bergeser ke mode ketahanan nasional secara disiplin menjadi pilihan strategis. Langkah pertama: Sektor Energi.
Pemerintah melalui ESDM dan Pertamina harus memastikan stok fisik crude dan LPG untuk jangka panjang. Diversifikasi pemasok dari kawasan non-konflik kini menjadi keharusan mendesak yang tidak bisa ditawar.
Langkah kedua: Stabilitas Moneter dan Fiskal. Koordinasi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan harus berada pada level tertinggi (tier-1). Intervensi pasar valas diperlukan menjaga Rupiah dari sentimen risk-off global. Pengelolaan ekspektasi publik sangat krusial guna mencegah kepanikan pasar yang bisa memicu buying spree dan inflasi di atas target.
Langkah ketiga: Perlindungan Sektor Riil. Memetakan industri strategis yang rentan terhadap kenaikan biaya logistik agar roda produksi tidak terhenti.
Strategis Diplomasi dan Kedaulatan
Secara geopolitik, Indonesia dapat memainkan kartu diplomasi lebih agresif. Sebagai pemimpin alami ASEAN dan aktor penting G20, Jakarta dapat mendorong konsolidasi kekuatan menengah (middle powers) untuk menekan aktor utama konflik kembali ke meja perundingan.
Bagi Indonesia stabilitas Timur Tengah "hak asasi ekonomi" warga dunia.
Di dalam negeri, penguatan kedaulatan energi melalui percepatan transisi energi terbarukan dan optimalisasi sumber daya domestik menjadi proyek prioritas nasional.
Hal ini harus dikawal ketat jika perlu melibatkan militer dan sipil untuk memastikan letupan bom di Teluk tidak mengguncang dapur rakyat di pelosok Nusantara.
Pelaku Usaha dan Masyarakat
Bagi dunia usaha, antisipasi rasional adalah kunci bertahan hidup. Pengusaha harus meninjau ulang kontrak harga tetap (fixed price) dan memendekkan masa berlaku kuotasi harga.
Amankan stok bahan baku kritis untuk 30 hingga 45 hari ke depan dan cari rute atau vendor alternatif. Penting melindungi arus kas (cash flow) dengan ketat.
Bagi masyarakat, menghemat energi dan menjaga likuiditas rumah tangga dengan menahan belanja non-primer adalah bentuk patriotisme baru. Hindari konsumsi agresif untuk barang impor.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan