Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Sinergi Dua "Arsitek" Pendidikan untuk Masa Depan NU dan Indonesia

Masa depan NU, bangsa Indonesia, dan umat, secara fundamental bergantung pada kualitas output pendidikan pesantren hari ini.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Sinergi Dua
Tribunnews.com/ist
Pertemuan dua tokoh pendidikan pesantren, KH. Imam Jazuli (kiri) dan KH. Asep S (kanan) di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, beberapa waktu lalu. 

 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Muhammad Husain Sanusi
Alumni UIN Alauddin Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits, Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Badan Wakaf Pesantren Teknologi Majapahit Mojokerto, Wasekjen FORBIS IKPM Gontor, Pendiri Rumah Literasi Aroayta dan Penulis dan Pemerhati Pendidikan Pesantren.

 

TRIBUNNEWS.COM - Nahdlatul Ulama (NU), sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, kini berada di persimpangan jalan sejarah yang krusial. Abad kedua NU menuntut lebih dari sekadar pelestarian tradisi (al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih). Namun, ia menuntut keberanian mengambil yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah). 

Masa depan NU, bangsa Indonesia, dan umat, secara fundamental bergantung pada kualitas output pendidikan pesantren hari ini. Transformasi pesantren bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencetak generasi Nahdliyin yang mendunia dan berperan strategis.

Dalam konteks inilah, pertemuan intensif antara KH. Imam Jazuli (Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia atau BIMA, Cirebon) dan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, (Pendiri dan Pengasuh PP Amanatul Ummah, Surabaya dan Mojokerto) pada 14 April 2026 menjadi titik terang yang sangat signifikan. 

Kunjungan ketujuh Kiai Asep ke BIMA ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan simbol "chemistry" visi dua tokoh yang terbukti sukses merintis pesantren dari nol menjadi mercusuar pendidikan moderen. Selain, chemistry, kedua tokoh ini tak diragukan ada semacam kesamaan ijtihad dalam visi dan misi.

Pertemuan itu adalah pertemuan "dua arus utama" yang menyatukan pengalaman. Kiai Asep dengan Amanatul Ummah-nya telah membuktikan kemampuan menembus batas, menempatkan puluhan, mungkin malah ratusan santri di fakultas kedokteran dan universitas top dunia. 

Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi lain, Kiai Imam Jazuli melalui Bina Insan Mulia (BIMA) melakukan disrupsi pendidikan dengan mengirimkan ratusan alumni ke berbagai belahan dunia setiap tahunnya. Kesamaan visi mereka berakar pada pemahaman bahwa pesantren harus "selesai" dengan urusan pragmatisme perut agar fokus pada "proyek besar": mencetak teknokrat, dokter, dan ahli IT yang berakhlak karimah. 

Pertemuan di BIMA itu merumuskan transformasi kurikulum yang inklusif, adaptif, dan terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi salaf. Ini adalah upaya memadukan keilmuan Islam klasik yang dalam dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Hari ini, tantangan masa depan NU adalah bagaimana transformasi pendidikannya melahirkan santri yang tidak hanya fasih ilmu agama, tetapi juga fasih berbicara sains dan teknologi. Kiai Imam dan Kiai Asep sepakat bahwa tanpa penguasaan bidang strategis, pesantren akan selalu menjadi penonton di tengah pembangunan.

Outpun peserta didik haruslah kader nahdliyin yang mampu mengisi posisi strategis nasional maupun global. Pesantren harus menjadi ruang inovasi, bukan sekadar tempat mengaji. Sinergi ini mengisyaratkan bahwa ke depan, pesantren NU akan menjadi pelopor smart pesantren yang melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Dan, yang paling menarik dari kedua sosok ini adalah, keduanya merintis pesantren dari nol. Ini menunjukkan bahwa transformasi yang diusung bukan sekadar teoretis, melainkan hasil pengalaman praktis (proven track record). Kiai Asep dengan amanatul ummah dan Kiai Imam dengan BIMA menunjukkan bahwa dengan visi yang kuat, dedikasi, dan kemandirian ekonomi, pesantren mampu berdiri tegak dan melampaui sekolah negeri dalam kualitas.

Kehadiran mereka di garda depan transformasi pendidikan adalah masa depan NU, dan andai keduanya bersedia, serta diberi amanah memimpin NU, maka ini seakan jaminan NU ke depan diisi oleh pemimpin yang memahami kebutuhan umat dan bangsa. Jadi, pertemuan intens Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli akhir-akhir ini adalah sinyalemen arah baru NU dan memastikan NU tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.

Sinergi keduanya menciptakan harmoni antara kekuatan akar rumput (grassroots) dan pemikiran strategis. Kiai Asep merepresentasikan wibawa ulama sepuh yang karismatik dan dermawan, sedangkan Kiai Imam Jazuli mewakili energi aktivisme yang dinamis dan kritis terhadap birokrasi organisasi. Kombinasi ini diyakini mampu membawa NU menuju era "Kemajuan Abad Kedua," di mana organisasi tidak hanya besar secara kuantitas jamaah, tetapi juga berdaya secara politik, ekonomi, dan intelektual di kancah internasional.

Sekali lagi, transformasi pesantren adalah jawaban nyata untuk masa depan. Melalui sinergi dua arsitek pendidikan yang merintis dari nol ini, kita optimistis masa depan umat dan bangsa akan lebih cerah dengan kehadiran generasi santri yang berkarakter, unggul, dan mampu membawa peradaban Islam Indonesia ke panggung dunia.

 

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas