Menakar Manfaat Reaktivasi Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang
PT Kereta Api Indonesia berencana mereaktivasi jalur kereta api antara Stasiun Kedungjati dan Stasiun Tuntang sepanjang 30 km.
Editor:
Choirul Arifin

PT Kereta Api Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati – Tuntang sepanjang 30 km. Langkah ini diyakini akan membuka keran potensi ekonomi baru bagi masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.
Jalur kereta api Kedungjati–Tuntang menyimpan kisah legendaris sekaligus tragis dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.
Sebagai bagian dari rute penghubung Semarang ke Ambarawa, kini napas sejarahnya masih bisa dirasakan melalui kereta wisata yang aktif melayani rute Tuntang hingga Bedono.
Jalur rel menuju Ambarawa merupakan percabangan dari pelintasan utama stasiun kereta api pertama Stasiun Semarang di Semarang menuju Vorstenlanden atau daerah yang dikuasai raja-raja pribumi di Surakarta dan Yogyakarta. Titik percabangannya ada di Stasiun Kedungjati setelah Stasiun Tanggung, Grobogan.
Mengutip dari Kompas (1 Maret 2014), bangunan Stasiun Ambarawa ditetapkan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa sejak 6 Oktober 1976. Pada era Hindia Belanda, stasiun itu bagian penting jalur kereta api pada masa-masa awal.
Stasiun Willem I selesai dibangun dan mulai dioperasikan untuk lintas kereta api cabang Semarang-Kedungjati-Ambarawa pada 21 Mei 1873.
Nama Willem I disematkan sesuai nama benteng logistik dan barak militer Hindia Belanda—Benteng Willem I—yang tak jauh lokasinya dari stasiun. Adapun Benteng Willem I dibangun pada 1834-1845. Masyarakat setempat hingga kini menyebutnya sebagai Benteng Pendem (terpendam).
Jalur ini dibangun oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dibuka 21 Mei 1873 menghubungkan pelabuhan di Semarang dengan benteng militer di Ambarawa (Willem I) serta mempermudah pengangkutan komoditas hutan dan perkebunan seperti kayu jati, kopi dan gula dari pedalaman Jawa Tengah.
Baca juga: Reaktivasi 11 Jalur Kereta di Jawa Barat, Dedi Mulyadi: KRL Terintegrasi Cikarang sampai Subang
Nama Willem I itu diambil dari nama raja pertama Kerajaan Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau (1772-1843).
Jalur rel ini dibangun perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Percabangan jalur rel Kedungjati menuju Ambarawa sepanjang 37 kilometer memiliki keistimewaan.
Saat pembangunan jalur Semarang-Vorstenlanden, NIS didera kesulitan modal. Namun, Pemerintah Hindia Belanda bersedia memberikan pinjaman modal dengan bunga 4,5 persen.
Pasca-Perang Diponegoro (1825-1830), Ambarawa ditetapkan sebagai titik pertahanan militer yang sangat strategis karena lokasinya yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta.
Urgensi pengerahan pasukan inilah yang mendorong pembangunan rel kereta api secara masif di sana. Begitu vitalnya Jawa Tengah bagi Hindia Belanda, hingga hampir seluruh wilayahnya terhubung oleh rel, kecuali Salatiga.
Baca juga: Kemenhub Terkendala Biaya Bebaskan Lahan untuk Reaktivasi Jalur Kereta Api di Berbagai Daerah
Kota Salatiga menjadi satu-satunya wilayah yang terisolasi dari jalur kereta api, salah satunya karena tantangan kondisi geografisnya yang sulit.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan