Fajar Baru Nahdlatul Ulama: Menguji Kiai Muda Berbasis Pesantren Progresif
Muktamar NU ke-35 2026 diwarnai arus bawah kiai muda, membawa energi baru kepemimpinan dan transformasi jam’iyah
Editor:
Glery Lazuardi

MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026, atmosfer organisasi keagamaan terbesar di dunia ini terasa berbeda. Ada arus bawah yang bergejolak, menuntut reposisi dan reorientasi kepemimpinan.
Jika pada muktamar-muktamar sebelumnya narasi didominasi oleh figur-figur struktural senior, kini muncul fenomena menarik: alternative leadership yang dimotori oleh barisan kiai muda pengasuh pesantren besar.
Nama-nama seperti Gus Yusuf Chudlori, Gus Salam, Kiai Imam Jazuli, dan Gus Rozin, yang sering dikaitkan dengan dinamika PKB, bukanlah sekadar pelengkap bursa. Mereka adalah representasi kiai muda yang matang secara sanad spiritual, mumpuni secara intelektual, dan terukur secara manajerial.
Kehadiran mereka membawa angin segar bagi organisasi yang tengah membutuhkan transformasi di abad kedua NU. Figur alternatif ini bukanlah "kiai karbitan". Kekuatan mereka terletak pada perpaduan tiga komponen utama: Nasab (legitimasi), Ilmiah (kapabilitas), dan Manajerial (pesantren).
Gus Yusuf Chudlori (Magelang): Berbekal jaringan parpol yang kuat dan akar kultural yang tebal, beliau adalah jembatan organik antara struktural NU, pengasuh pesantren tradisional, dan basis politik PKB.
Kekuatannya ada pada komunikasi yang luwes dan legitimasi sebagai "santri tulen" dan pengasuh pesantren besar. Kelebihan lainnya, ia bisa diterima baik kalangan Kiai sepuh maupun barisan Kiai muda.
Kapasitas intelektual dan spiritual Gus Yusuf tidak perlu diragukan. Pesantren yang ia asuh, API Tegalrejo, memiliki sejarah emosional yang sangat kuat dengan tokoh-tokoh besar NU. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tercatat pernah menimba ilmu di sini sebagai santri langsung dari ayahanda Gus Yusuf.
Gus Salam (Jombang): Membawa panji muassis (pendiri) NU, Gus Salam adalah representasi sanad spiritual dan nasab yang kental. Kehadirannya memberikan legitimasi historis yang krusial untuk menenangkan basis tradisional NU. Selain itu, Gus Salam dikenal Kiai muda yang sangat kritis dan berani.
Rekam jejak Gus Salam selain sebagai pengasuh pesantren Denanyar, juga sejak muda aktif di organisasi dan ini menunjukkan kematangan yang teruji. Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur dan Wasekjen PBNU, beliau memahami seluk-beluk administrasi hingga konflik internal jam’iyah.
Ia memulai kiprah di kepengurusan NU sejak tahun 2002 silam. Kemudian Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Kota Kediri.
Kiai Imam Jazuli (Cirebon): Ini adalah figur intellectual-practitioner. Sebagai pengasuh pesantren (Bina Insan Mulia) yang ia dirikan sendiri—bukan meneruskan—kini terbesar di Jawa Barat.
Selain sebagai trah Sunan Gunung Djati, Ia juga memiliki keunggulan kompetitif sebagai manajer pendidikan modern dan memiliki jaringan pendidikan internasional. Pernah juga wakil ketua PP RMI PBNU. Namanya masuk bursa terkuat Calon Ketua Umum berdasarkan survei yang dirilis Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara).
Latar belakangnya sebagai ideolog PKB, mujiz Dalailul Khairat, dan alumni Kempek, Lirboyo, Al-Azhar Kairo-Malaysia menunjukkan wawasan Islam yang komprehensif, mulai dari sufisme, filsafat, hingga strategi politik global.
Kelebihannya adalah pengusaha, mapan secara ekonomi dan dekat dengan elit partai dan kekuasaan, Kiai Imam Jazuli juga banyak menawarkan gagasan transformasi NU yang mandiri dan berkemajuan.
Gus Rozin (Pati): Sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah dan alumni Australia, Gus Rozin membawa jaringan intelektual internasional dan pengalaman manajerial tingkat wilayah. Ia krusial untuk komunikasi NU di kancah global. Ia juga memiliki rekam jejak unik sebagai "ulama teknokrat".
Perannya sebagai Staf Khusus Presiden RI selama beberapa tahun memberikan beliau perspektif makro mengenai bagaimana kebijakan publik berinteraksi dengan realitas sosial. Selain itu, Gus Rozin kini pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, dan mewarisi genetika intelektual dan spiritual dari KH. MA. Sahal Mahfudh. Namun, Gus Rozin tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
Skema Bisa Saling Melengkapi
Jika keempat kiai muda ini saling melengkapi, mereka membentuk "paket komplit" yang sulit ditandingi. Gus Salam dan Gus Yusuf mengunci basis kultural dan sejarah. Kiai Imam Jazuli membawa ide-ide inovatif untuk profesionalisasi manajemen NU dan kemandirian ekonomi, didukung oleh Gus Rozin yang ahli strategi dan berwawasan serta berkomunikasi secara internasional.
Keempatnya memiliki basis pendukung rill, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan arus politik praktis sesaat. Peluang figur-figur muda ini sangat besar jika NU menyadari pentingnya regeneration. Pertama, kelelahan warga NU atas konflik kepengurusan struktural yang membuat organisasi tidak fokus pada penguatan basis.
Lalu kedua, tuntutan pesantren agar pemimpin NU lebih relatable dengan kebutuhan pesantren transformatif (transformasi kurikulum dan manajerial). Dan, ketiga, kebutuhan akan sosok yang berani mengambil risiko untuk mengembalikan PKB sebagai alat politik sah NU, namun tetap menjaga jarak sehat agar NU tidak sekadar menjadi stempel politik.
Kehadiran keempat Gus / kiai muda ini adalah kesempatan bagi muktamar untuk memilih "jalan baru", bukan sekadar memilih siapa, tapi jalan apa yang akan ditempuh NU ke depan. Jika dikelola dengan baik, faksi kiai muda ini akan menjadi energi baru yang membawa NU lebih transformatif, profesional, dan berwibawa di kancah global. Wallahu'alam bishawab.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.