Buku Anyar KMB: Masalah & Solusi Lembaga Pendidikan Kita
Buku Kampus Meretas Batas (KMB) menarik, lugas & segar. Kado istimewa Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026
Editor:
Theresia Felisiani

TRIBUNNERS, JAKARTA - Yang kita butuhkan bukan sistem yang lebih besar, tapi sistem yang lebih jujur__ Bapak S.D. Darmono, pendiri President University & Kawasan Industri JABABEKA (buku KMB, KPG, 2026, hlm.19)
Daripada mengongkosi anak kuliah luar negeri puluhan miliar, pulang toh kerja di Indonesia atau meneruskan bisnis orang tua, lebih baik saya kuliahkan dalam negeri.
Sisa dana buat modal anak wirasuaha __Bapak F, pengusaha, investor usaha kuliner & orang tua murid, 2026
Buku Kampus Meretas Batas (KMB) ini menarik, lugas & segar. Kado istimewa Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026 kali ini. Ditulis bukan oleh pakar pendidikan, namun juga bukan awam. Penulis pernah mengepalai organisasi filantropi global dengan flagship program bantuan pendidikan. Ia juga mantan eksekutif perusahaan migas Schlumberger, mengepalai kantor Eropa, Persia & Asia. Pengamatan & alur riset kecilnya yang berjarak, tentu amat berharga. Tidak hanya soal kampus, buku yang enak dibaca ini menelusuri problem profile lulusan SMK/SMA pun PT Indonesia. Hanya 68 persen siap kerja. Selebihnya 6 bulan lulus, menganggur. Sebuah kesia-siaan yang disayangkan penulis.
Kesenjangan lembaga pendidikan & dunia kerja adalah isu berdasawarsa di belahan dunia manapun. Bahkan China mengalami ledakan pengangguran intelektual. Perlambatan ekonomi, diperparah pandemi Covid-19 melahirkan “manusia tikus” (generasi minimalis). Kelompok usia produktif yang tersingkir dari arena kerja kerah putih & kerah biru, pilih meminimalkan bahkan menihilkan diri dalam pergaulan kian tertutup di China.
Di Indonesia, dalam kaitan peluang bonus demografi serupa, kajian kecil J. Satrio Tanudjojo tersebut menjadi semacam wake up call. Penulis menyarikan dari FGD berseri. Mengundang para GM, penanggungjawab HRD selaku pemberi kerja & akademisi perguruan tinggi selama penulis menjadi CEO lembaga filantropi/donor pendidikan Tanoto Foundation (TF). Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Mandarin tersebut, sejatinya turut menyumbang pemikiran atas tantangan yang dihadapi Indonesia: sebagian (besar) alumni tidak siap, sementara (sudah pasti) tuntutan medan kerja kian meningkat. “Dunia kerja yang amat dinamis tak bisa menunggu”, tegas penulis yang bermukim di Perancis ini.
Butuh solusi bersama, baik pemangku kepentingan lembaga pendidikan & pemberi kerja agar lulusan kian terasah terhadap ekosistem dunia kerja. Sembari mengurai kendala proses didik di lembaga pendidikan yang sebatas beroleh ijazah. Di lain kesempatan, Ibu S, seorang dosen kampus negeri & alumni salah satu kampus tertua di Eropa mengaku, di Indonesia dosen menjadi "buruh borang-borang" (pengisi formulir administratif) ketimbang menghasilkan riset unggulan. Pendidikan tinggi menjelma sebagai sistem administratif daripada ruang pembentukan manusia & pengembangan body of knowlegde. Murid dipandang sebagai subjek pembelajaran atau objek birokrasi kampus (buku KMB, hlm. 19).
Baca juga: Nasril Bahar: Investasi Emas Jadi Instrumen Penting Persiapkan Dana Pendidikan Anak
Bertepatan pada Hardiknas 2026 & tanpa maksud menyalahkan pihak manapun, penulis menyuguhkan fakta mencengangkan. Jumlah perguruan tinggi berbagai negara (2023-2025): Indonesia punya 4,523 kampus, AS 3,931, China 3,117, Rusia 1,010, Jepang 992, Korea Selatan 430, Jerman 422, Inggris 260, Perancis 160 & Italia hanya 96 kampus (buku KMB, hlm.18). Apa yang sejatinya terjadi pada ledakan jumlah kampus kita? Pada saat yang sama, seorang dosen kampus swasta, Bapak R menghadiri konferensi di negara tetangga. Dua dosen kampus negeri yang juga hadir memgeluh: “Kami berangkat ongkos sendiri, belum tahu apa biaya (reimburse) ke konferensi ini bisa diganti kampus”. Bila pun terlanjur sedemikian jumlahnya, apakah berbagai kampus punya komitmen mendukung dosen berkembang ilmu & karirnya. Terkhusus bagi mahasiswanya, buku tipis 174 halaman namun cukup padat ini memuat program pengayaan yang justru dilakukan oleh lembaga-lembaga luar kampus. Terkait isu tersebut TF punya catatan. Berbekal pengalaman penulis 10 tahun memimpin program Teladan Kepemimpinan TF bagi mahasiswa. Ternyata pengayaan bagi mereka berhasil mendongkrak tingkat penerimaan kerja di kisaran 90% hampir 100%, tidak hanya 68%.
Dinamika kegelisahan di atas, mendorong seorang pengusaha berbuat. Adalah S.D. Darmono pengembang kawasan industri Jababeka, mendirikan President University (PU). Kampus didirikan di tengah kawasan industri terbesar di Asia Tenggara tersebut awalnya dicanangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja kawasan industri setempat. Kekhasan alumninya, mesti punya skill economic survival dibarengi dasar good character. Demikian salah satu sumpah civitas akademiknya.
Buku ini intinya merangkai berbagai evidence based tersebut. Sebelumnya Pak Darmono bersama konsorsium berhasil mengundang 1,400 perusahaan besar, meletakkan tapak-tapak pabriknya di Jababeka. Pendirian kampus di tengah kawasan adalah langkah cerdik dari sudut pandang industrial. Gagasan link & match yang telah digaungkan lama beroleh makna pada PU. Di awal saja kampus yang berdiri pada 2001 ini mampu menerima murid asing 75% & 25% murid Indonesia. Sebanyak 12 anak Indonesia, 24 dari Tiongkok & 12 calon murid warganegara Vietnam diterima sebagai angkatan pertama (buku KMB, hlm. 33). Upaya kongkrit membaca kebutuhan di lapangan sekaligus mencipta suasana pembelajaran global village campus. Ajaibnya, kampus yang bulan April 2026 merayakan HUT 25 tahun ini justru terletak di pelosok Cikarang, Jawa Barat. Bukan di kawasan urban Jakarta layaknya kampus ternama lain. PU diminati murid kawasan Asia & Afrika: Jepang, China, Vietnam, Kenya, Angola dll. selain murid dari Indonesia sendiri. Terletak di kawasan Jababeka seluas 5,600 hektare, kurikulumnya dikenal punya kekhasan eksosistem industrial di sekitar pabrik Honda, Sanyo, Unilever, Samsung dll. Total di Bekasi 3,000 perusahan. Modal tersebut menjadi pijakan strategis & ciri lembaga.
Sebagai penasihat kampus didapuklah Prof. Charles Himawan, Dr. Surjanto Sosrodjojo (senior dirjen dikti), dosen dari Australia Prof. Don Watts (perintis Notre Dame University & Curtin University), termasuk belum lama wafat Prof. Juwono Sudarsono; Ir. Laksama Sukardi & Prof. Brian Lee Chung (Nanyang Technological University/NTU, Singapura) yang pernah ditarik PM Lee untuk membenahi NTU. Masa kuliah S1 di PU 3 tahun mengadaptasi pola pendidikan umumnya di dunia. Menurut catatan penulis justru hanya di Indonesia S1 mesti kuliah 4 tahun. Bisa jadi ini pula yang dimaksud sistem yang lebih jujur oleh Pak Darmono selaku pendiri. Pola 4 semester diubah 3 semester dalam 1 tahun ajaran. Ke depan PU menginisiasi fast track program S1 & S2 cukup 4 tahun saja (buku KMB, hlm. 156). Penyiasatan regulasi ini sah karena memang tidak diatur. Kurikulum dipadatkan seperti kampus AS, Eropa, Australia, bahkan negeri jiran Malaysia, Singapura dll juga demikian. Semua murid baik lokal pun asing harus magang (internship) dengan porsi praktek kian diperbesar.
Dari kawasan gersang lio-lio (tobong batu-bata penuh lubang) kini Jababeka Cikarang bernilai sosial-ekonomis berlipat. Kehadiran kampus melahirkan angkatan siap kerja dari kawasan industri terbesar Asia Tenggara. PU meretas keterbatasan wilayah, inovasi & fokus pengelolaan lembaga dalam koridor regulasi—sebagaimana judul buku. Bahkan batas pengertian kampus dalam & luar negeri pun diretas. Bukan kirim mahasiswa ke luar negeri dengan bea mahal, namun—pinjam istilah Prof. Arief Rachman (2014) tentang esensi Pendidikan---kampus ini menghadirkan “suasana pembelajaran” internasional. Mahasiswa dari berbagai negara berkuliah di Indonesia, bukan sebaliknya.
Peringkat 1 the World University Ranking for Innovation (WURI) ini juga melahirkan jurusan kedokteran. Tujuannya mengatasi kesenjangan jumlah dokter, selain Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Pendiri amat concern pada pentingnya kualitas guru SD. Berbasis hasil riset, mutu pengajaran memberikan efek kumulatif kepada hasil belajar siswa maka President University terpanggil mendirikan PGSD (buku KMB, hlm. 114). Kampus dengan 10,000 mahasiswa dari 50 negara ini juga melahirkan Fabrication Laboratory (Fablab). Praktikan Fablab berhasil memamerkan mesin tenaga elektromagnetik pada Concours Lepine di Paris.
Para alumni PU juga menarik disimak: Dwi Wisnu Budi Prabowo (first secretary pada Utusan Tetap RI di PBB, New York); Kantil Anggiaswari (direktur Ernst & Young); Felicia Putri Tjiasaka (co-founder Ternak Uang, studi lanjut Harvard Kennedy School); Graha Yudha (Wharton School & S3 di kampus Glasgow), komisaris BUMN berusia 33 tahun; dari putra daerah Ciamis, Jabar, Deris Nagara (Ketua BEM di Columbia State University) kini staf Menpar RI; Potter Liu (alumnus dari China mengepalai Huawei Eropa di Paris); Prof. Pham Van Vung (Universitas Houston, Texas); putra daerah Jawa Barat lain dari Serang, Prof. Jhangiz Syahrivar (guru besar termuda PU); Rey Abraham (ketua PPI Inggris, Universitas Manchester, the best leadership dari 66 negara); Scherzo Wahid Naiborhu (S2 Glasgow University) dari sektor perbankan internasional; selain Felicia, Peter Dinh (CEO FinanceX sebuah platform aset digital) mewakili wirausahawan keuangan global; tak ketinggalan di kabinet terbaru, wakil menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, alumnus PU, eksekutif Standard Chartered. Target ideal 20,000 murid PU ke depan, tentu masih akan banyak lahir para pengusaha, bupati, walikota, pun eksekutif & guru besar di berbagai negeri (buku KMB, hlm. 164).
Baca juga: Pendidikan Adaptif dan Kebutuhan Industri
Jumlah kampus salah satu terbesar di dunia (4,523 kampus di Indonesia) tidak selalu menentukan mutu. Sementara kampus-kampus daerah seperti PU, bukan di kawasan urban justru mampu menjadi inkubator pekerja keahlian tinggi bahkan akademia. Harus diakui belief-misi-visi yang kokoh & fokus merespon kebutuhan tenaga kerja saja tidak cukup. Concern menyediakan pendidikan multikultural-global, tentu butuh investasi besar, selain kolaborasi banyak pihak.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan