Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Lima Pilar Menuju PBNU yang Membumi dan Berwibawa

Menuju dan pasca-Muktamar ke-35 nanti, NU memerlukan lima ikhtiar bersama agar jam’iyyah ini tetap kokoh di akarnya

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Lima Pilar Menuju PBNU yang Membumi dan Berwibawa
HO/IST
KH Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur. 

Oleh: KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)*

Judul dan isi tulisan ini bukanlah sekadar angan-angan pribadi. 

Ia merupakan rangkuman pemikiran, harapan, dan suasana kebatinan yang lahir dari diskusi gayeng dalam rangkaian silaturahmi bersama PCNU se-Jawa Tengah di tiga titik pertemuan dari enam karesidenan.

Tentu, masukan dari arus bawah ini sedikit berbeda aksennya dengan apa yang didawuhkan oleh para masyayikh sepuh NU dan pesantren yang saya sowani di Jawa Tengah. 

Para kiai sepuh lebih menekankan aspek ta’lim wa ta’allum, penguatan pesantren, kesatuan, serta akhlak—terutama etika berjam’iyyah dan bermasyarakat. 

Beliau-beliau bahkan berpesan secara khusus agar nilai-nilai tersebut dijadikan pedoman utama bagi para calon pimpinan NU ke depan.

Dalam struktur kita, PCNU patut mendapat apresiasi tertinggi dan posisi paling terhormat. 

Rekomendasi Untuk Anda

Merekalah yang bersentuhan langsung dengan warga: menggerakkan akar rumput, membangkitkan semangat, mengorkestrasi gerakan, serta mengoordinasikan berbagai inisiatif kemaslahatan umat di tingkat kecamatan, ranting, hingga anak ranting berbasis masjid dan mushola. 

Faktanya, keteduhan dan geliat kepengurusan NU justru paling hidup di arus bawah.

Ketika menyelami kearifan berjam’iyyah di tingkat cabang, kita akan menyadari satu hal: Nahdlatul Ulama tidak pernah kekurangan orang alim sebagai penggerak alami. 

Kita hanya lemah dalam merawat mereka agar tetap tersambung dengan umat. 

NU juga tidak pernah kekurangan amal usaha. Kita hanya lemah dalam mengelolanya agar bisa berkah (terus menambah kebaikan) dan berjangka panjang.

Kelemahan tersebut sebenarnya bisa diatasi jika kita memperkuat fungsi koordinasi di semua tingkatan. 

Sebab, NU adalah organisasi berbasis koordinasi, bukan instruksi. 

Struktur NU yang mapan hingga tingkat dusun perlu difungsikan dengan pola desentralisasi, bukan komando ala militer yang menciptakan relasi kuasa yang tidak seimbang. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas