Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Memahami New Saudi Narrative: Cermin untuk Membaca Masa Depan Indonesia

Negara menyediakan kesejahteraan, infrastruktur, layanan publik, dan stabilitas. Sebagai imbalannya, masyarakat memberikan legitimasi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Memahami New Saudi Narrative: Cermin untuk Membaca Masa Depan Indonesia
Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni
ARAB SAUDI - Jembatan King Fahd, yang menghubungkan Kerajaan Arab Saudi dengan Kerajaan Bahrain. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Azis-Subekti
Mahasiswa Program Doktor UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

SATU tahun lalu, ketika saya kembali menginjakkan kaki di Arab Saudi, ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan angka-angka ekonomi maupun laporan lembaga pemeringkat internasional.

Di tanah yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat spiritual umat Islam itu, saya merasakan sesuatu sedang bergerak. Bukan pada Ka’bah yang tetap menjadi pusat orientasi jutaan manusia.

Bukan pula pada Masjid Nabawi yang masih memancarkan keteduhan yang sama seperti berabad-abad lalu. Yang berubah adalah energi sebuah bangsa yang tampak sedang berusaha mendefinisikan ulang dirinya sendiri.

Di Riyadh, di Jeddah, bahkan dalam percakapan-percakapan sederhana dengan warga setempat, terasa ada kesadaran baru bahwa masa depan tidak boleh seluruhnya dititipkan kepada minyak.

Barangkali itulah inti dari apa yang hari ini dikenal dunia sebagai New Saudi Narrative.

Banyak orang melihatnya dari permukaan: kota futuristik NEOM, stadion megah, balapan Formula 1, klub-klub sepak bola yang mendatangkan bintang dunia, investasi teknologi, kecerdasan buatan, kawasan wisata Laut Merah, hingga berbagai reformasi sosial yang sebelumnya sulit dibayangkan terjadi di Saudi. Semua itu memang nyata.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun jika kita berhenti pada bangunan-bangunan megah tersebut, kita mungkin justru gagal memahami perubahan yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Karena yang sedang dibangun Saudi bukan sekadar kota.

Yang sedang dibangun adalah kepercayaan terhadap masa depan.

Sejarah sering mengajarkan sebuah ironi.

Bangsa-bangsa miskin biasanya dipaksa berubah karena mereka tidak memiliki pilihan. Sebaliknya, bangsa-bangsa kaya justru sering terlambat berubah karena merasa memiliki terlalu banyak alasan untuk mempertahankan keadaan.

Arab Saudi memahami paradoks itu.

Sejak ditemukannya minyak di Dammam pada 1938, minyak bukan hanya sumber pendapatan negara. Minyak menjadi fondasi dari kontrak sosial modern Saudi.

Negara menyediakan kesejahteraan, infrastruktur, layanan publik, dan stabilitas. Sebagai imbalannya, masyarakat memberikan legitimasi dan dukungan terhadap sistem yang berjalan.

Model itu bekerja sangat baik selama puluhan tahun.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas