Menelaah Arah Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Fenomena overshooting Dornbusch menjelaskan depresiasi ekstrem rupiah, dipicu tren inflasi dan suku bunga global.
Editor:
Glery Lazuardi
Terkait dengan pertanyaan, kapan pembalikan arah depresiasi rupiah per dollar AS akan terjadi? Jawabnya, kita perlu mengecek beberapa indikator makro ekonomi baik secara nasional maupun secara khusus di AS.
Salah satu indikator makro yang pengaruhnya sangat besar terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS adalah tren kenaikan inflasi dan suku bunga acuan (policy rate) di AS.
Hingga April 2026, inflasi AS cenderung mengalami kenaikan, yaitu dari 3,3 persen pada Maret 2026 menjadi 3,8 persen pada April 2026. Tingkat inflasi secara tahunan (year-on-year) pada April 2026 merupakan yang tertinggi sejak Mei 2023.
Tren kenaikan inflasi di AS memperbesar peluang bank sentral AS, The Federal Reserve, menaikkan Federal Fund Rate (FFR) dari saat ini 3,50 – 3,75 persen. Di mana, inflasi AS jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2,0 persen.
Meskipun peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Federal Open Market Committee (FOMC) meeting tanggal 16 – 17 Juni 2026 sangat kecil. Namun, berdasarkan perkiraan ekonom di AS, The Fed baru akan menaikkan FFR pada FOMC meeting tanggal 16-17 September 2026.
The Fed Watch dari CME group, lembaga think tank yang berbasis di AS memperkirakan bahwa pada FOMC meeting tanggal 16-17 September 2026 yang akan datang, The Fed akan menaikkan suku bunga acuan (FFR) hingga mencapai 3,75 – 4,0 persen. Hal ini diperkirakan akan bertahan hingga FOMC meeting tanggal 16 – 17 Desember 2026.
Jika skenario kenaikan suku bunga acuan The Fed terjadi secara persisten untuk menekan inflasi AS menuju target The Fed sebesar 2,0 persen, maka tekanan depresiasi nilai tukar rupiah per dollar AS juga akan terjadi hingga akhir tahun 2026.
Jika merujuk pada The Fed Watch dari CME group, AS, besaran kenaikan suku bunga acuan The Fed hanya sekitar 25 – 50 basis point (bps), maka dampaknya terhadap nilai tukar rupiah tidak akan terlalu besar.
Tetapi kenaikan tersebut akan membuat kurs rupiah per dollar AS membutuhkan waktu lebih panjang untuk berbalik arah, menguat secara gradual menuju ke keseimbangan jangka panjang.
Di mana, dalam jangka panjang, harga tidak lagi rigid (kaku), tetapi lebih bersifat fleksibel (bisa berubah).
Uang bersifat netral. Tidak memiliki pengaruh terhadap variabel riil, seperti kesempatan kerja, GDP dan konsumsi. Pengaruhnya langsung ke variabel nominal, seperti kenaikan harga (inflasi), upah dan nilai tukar.
Akhirnya, langkah apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk segera membalik arah depresiasi rupiah per dollar AS? Dari sisi kebijakan moneter, BI fokus menjaga agar inflasi sesuai dengan target BI sebesar 2,5 persen plus minus 1,0 persen.
Menjaga agar selisih suku bunga riil Indonesia yang tercermin pada BI rate dikurangi inflasi dengan suku bunga riil AS sebagai selisih antara FFR dengan inflasi AS, tetap positif.
Hal ini akan memberikan insentif bagi investor asing berinvestasi di instrumen keuangan di dalam negeri. Terjadi aliran modal masuk (net capital inflow) yang akan memperkuat nilai tukar rupiah per dollar AS.
Sementara, dari sisi kebijakan fiskal, sesuai kerangka Dornbusch overshooting model, pemerintah dituntut untuk menurunkan persepsi risiko terhadap perekonomian nasional. Tujuannya, menurunkan ekspektasi depresiasi mata uang rupiah per dollar AS.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.