Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Fenomena 'Home Bias' dalam Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Fenomena home bias puzzle ini dapat menjelaskan mengapa model moneter penentuan nilai tukar yang didasarkan pada faktor fundamental tidak akurat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Fenomena 'Home Bias' dalam Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
NILAI TUKAR RUPIAH - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah dalam beberapa waktu belakangan. 

Sehingga dalam hal perubahan kurs rupiah per dollar AS tergantung pada selisih inflasi (perubahan Indeks Harga Konsumen - IHK) Indonesia dengan AS. Kenaikan inflasi di Indonesia menyebabkan selisih inflasi Indonesia dengan AS naik yang menyebabkan rupiah per dollar AS melemah. 

Sebaliknya, kenaikan inflasi di AS membuat nilai tukar rupiah per dollar AS menguat. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah per dollar AS melemah dari Rp. 16.669,8 per dollar AS pada 1 Januari 2026 menjadi Rp. 18.161 per dollar AS pada 10 Juni 2026. 

Fluktuasi nilai tukar rupiah per dollar AS juga tergantung pada selisih suku bunga Indonesia dengan AS. Suku bunga Indonesia diukur dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), disebut BI rate. Suku bunga AS diukur dengan The Fed policy rate, yaitu Federal Fund Rate (FFR). 

Kenaikan FFR membuat selisih suku bunga Indonesia dengan AS meningkat. Ekspektasi depresiasi rupiah per dollar AS meningkat. 

Sehingga untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS maka kenaikan FFR akan diikuti oleh kenaikan BI rate. Sehingga ekspektasi depresiasi kembali menurun.

Singkatnya, kembali ke Meese dan Rogoff (1983a), fluktuasi nilai tukar rupiah per dollar AS tergantung pada beberapa indikator makro ekonomi yang populer dengan sebutan faktor fundamental. 

Jika faktor fundamental buruk maka nilai tukar melemah. Sebaliknya, jika faktor fundamental baik maka nilai tukar menguat.

Rekomendasi Untuk Anda

Artinya, fluktuasi nilai tukar rupiah per dollar AS ditentukan oleh selisih pertumbuhan jumlah uang beredar (money supply), pertumbuhan ekonomi, suku bunga, balance of payment dan inflasi antara Indonesia dengan AS.

Faktanya, pada saat kondisi fundamental mata uang rupiah baik, namun rupiah terus melemah terhadap dollar AS. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan keberadaan home bias puzzle.

Fenomena di atas dapat disebabkan oleh perilaku home bias yang memicu net outflow modal asing dari instrumen keuangan dalam negeri. 

Perilaku home biased kemudian memicu depresiasi ekstrim rupiah per dollar AS, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan membuat harga surat berharga negara turun (yield-nya naik). 

Lalu langkah apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan BI? Pertama, mengeliminir information assymetries antar pelaku pasar. Di mana biaya untuk mencari dan memproses informasi sangat rendah. 

Kedua, menghilangkan hambatan regulasi ketika berinvestasi di berbagai instrumen keuangan di dalam negeri. Tidak ada perbedaan berinvestasi di pasar domestik maupun luar negeri. 

Ketiga, menurunkan currency risk premium yang mempengaruhi persepsi risiko investor global terhadap perekonomian nasional. Jika currency risk risk premium naik maka country risk premium juga naik.

Akhirnya, langkah-langkah tersebut akan mendorong diversifikasi portofolio antar negara. Mengurangi risiko investasi bagi investor global. Memperkuat integrasi keuangan global.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas