Rudal BrahMos, Efektifkah Mengamankan Wilayah Laut Indonesia?
Rudal supersonik BrahMos masuk wacana pertahanan laut Indonesia, tapi efektivitasnya dipertanyakan di tengah ancaman maritim kompleks.
Editor:
Glery Lazuardi
Ia juga khawatir tentang pemeliharaan yang tepat untuk kendaraan peluncur rudal tersebut, sehingga memastikan kemampuan tempur jangka panjang.
Saat ini, Peluru Kendali Exocet MM 40 Block-3 yang buatan Prancis merupakan senjata strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang memiliki kemampuan dalam menyerang kapal permukaan (Anti-Ship Missile), serta mampu menyerang kapal sasaran untuk Coastline or Littoral Attack Mission, dan jangkauan antara 180 hingga 200 kilometer.
Sementara itu, rudal BrahMos hanya memberikan jangkauan tambahan sekitar 90-110 kilometer. Namun, ini memerlukan Indonesia untuk mengeluarkan biaya yang sangat tinggi.
Diketahui rencana pembelian tiga sistem rudal BrahMos ini melibatkan pinjaman dari Bank Nasional India senilai 450 juta dolar AS, harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan tiga sistem serupa kepada Filipina pada tahun 2022 dengan 375 juta dolar AS.
Hal ini patut dipertanyakan: mengapa harga untuk jumlah dan spesifikasi yang sama bisa memiliki selisih harga yang signifikan? Apakah selisih harganya digunakan untuk peningkatan konfigurasi teknologi atau malah masuk ke kantong pribadi?
Selain itu, ketergantungan pada utang luar negeri ini juga berpotensi memberikan beban fiskal yang berat pada Indonesia dan bahkan dapat menyebabkan krisis utang yang mempengaruhi perekonomian.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa, seperti yang terjadi di Thailand pada tahun 1997. Thailand, yang pada saat itu juga mengandalkan pinjaman luar negeri untuk membeli berbagai peralatan militer, terjerat dalam krisis ekonomi besar yang dikenal sebagai Krisis Mata Uang Asia.
Indonesia, meskipun memiliki salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tetap rentan terhadap fluktuasi ekonomi global dan kondisi internal.
Menambah utang luar negeri dengan membeli rudal BrahMos bisa memperburuk kesulitan fiskal Indonesia dan memberikan dampak yang berpotensi pada strategi keamanan nasional.
Konsultan pada Marapi Consulting and Advisory dengan spesialisasi pada defense industry and market, Alman Helvas Ali mengatakan bahwa sampai kini kinerja ekonomi Indonesia belum mampu mendukung alokasi satu persen Pendapatan Domenstik Bruto (POB) bagi sektor pertahanan.
Pengeluaran pertahanan harus dilakukan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi fiskal, perencanaan pertahanan strategis, dan faktor teknologi. Keputusan untuk pengadaan sistem rudal tunggal tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan keuangan negara.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.