Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Usai Gerhana Matahari, Warga Palangkaraya Adakan Ritual Memanggil Roh Leluhur

Ritual Balian digelar sebagai upaya mensejahterakan Kota Palangkaraya. Ritual itu juga dipercaya suku asli di Kalimatan Tengah, tuk menghalau bencana.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Willem Jonata

Laporan Wartawan Banjarmasin Post, Faturahman

TRIBUNNEWS.COM, PALANGKARAYA - Kegiatan seni dan budaya digelar untuk memeriahkan gerhana matahari total di Palangkaraya, Rabu (9/3/2016). Meskipun sederhana pelaksanaannya tetap meriah.

Kawasan Bundaran Besar dan Lapangan Senaman Mantikai, jadi lokasi yang diserbu warga untuk menyaksikan fenomena gerhana matahari.

Salah satu kegiatan di lokasi adalah ritual Balian. Ritual tersebut dipercaya suku asli di Kalimantan Tengah sebagai upaya mensejahterakan Kota Palangkaraya sehingga terhindar dari bala bencana. 

‎Ritual ini biasanya untuk membersihkan segala sesuatu dari segala penyakit, melindungi dari musuh, baik dari orang-orang yang berniat jahat maupun roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman desa (kampung).

Ritual ini juga sekaligus memberi makanan kepada para leluhur (pakanan sahur) yang hadir pada ritual tersebut.

Adapun tujuan dari upacara ini adalah untuk meminta perlindungan, dari segala marabahaya, penyakit, meminta rejeki sekaligus mempertahankan adat dan tradisi suku dayak Kalimantan Tengah.

Sebelum memulai ritual, para basir menghadirkan roh-roh leluhur (sangiang), dengan doa-dan mantra dengan bahasa Sangiang.

Rekomendasi Untuk Anda

Basir adalah orang yang menabuh katambung yang berjumlah lima orang serta mengkomunikasikan dengan para sangiang atau leluhur. 

Mereka juga menghubungkan serta memanggil para roh leluhur (sangiang) tersebut. Kemudian akan terjadi dialog antara basir dan sangiang dengan komunikasi bahasa sangiang.

‎Kegiatan ritual adat Dayak, kesenian tari dan budaya serta pameran makanan kuliner yang digelar dalam kegiatan tersebut, merupakan konsep dari Dinas Pariwisata Kalteng.

"Kami ingin kegiatan ini, berjalan dengan baik dan tentunya, juga harus diselingi dengan budaya lokal." kata Kadis Pariwisata Kalteng, Yuel Tenggara.(*) 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas