Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Esok Tanpa Ibu, Ketika Empati Tidak Bisa Terganti Algoritma

Film ini bukan hanya mengangkat soal kecanggihan AI, melainkan mengenai pentingnya hubungan nyata antar manusia.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Esok Tanpa Ibu, Ketika Empati Tidak Bisa Terganti Algoritma
Instagram
ESOK TANPA IBU - Cuplikan Film Esok Tanpa Ibu yang menyoroti fenomena remaja yang mencari kenyamanan emosional lewat chatbot AI (Instagram/Filmesoktanpaibu) 

TRIBUNNEWS.COM - Film Esok Tanpa Ibu berhasil membuat saya berpikir kenapa remaja lebih nyaman curhat ke chatbot AI daripada ke manusia sungguhan.

Film yang diproduseri Aktris Dian Sastrowardoyo ini bercerita tentang Rama (Ali Fikri), remaja yang harus mengalami kekosongan emosional setelah ibunya (Dian Sastrowardoyo) meninggal dunia. Tidak tahu cara menghadapi rasa kehilangan, Rama berusaha β€œmengawetkan” sosok ibunya dengan menghadirkannya kembali dalam bentuk artificial intelegent (AI) yang diberi nama I-Bu.

Teknologi ini awalnya berhasil menjadi penopang emosional bagi Rama, namun perlahan menimbulkan dilema tentang seberapa jauh teknologi dapat menggantikan peran manusia dalam kehidupan nyata, ditunjukan secara apik melalui peran Bapak yang dimainkan oleh Ringgo Agus Rahman.

Melalui skenario yang ditulis Gina S. Noer, Esok Tanpa Ibu mengeksplorasi tema-tema berat seperti duka, relasi keluarga, kehilangan, serta batas tipis antara teknologi dan hubungan emosional. Film ini bukan hanya mengangkat soal kecanggihan AI, melainkan juga tentang kebutuhan manusia paling mendasar mengenai pentingnya hubungan nyata antar manusia.

Baca juga: Refleksi Ringgo Agus Lewat Film Esok Tanpa Ibu, Tak Ingin Berjarak dengan Anaknya

Bukan karena AI Lebih Bijak, tapi karena Selalu Tersedia

Menurut penelitian Common Sense Media tahun 2025, sekitar 72 persen remaja di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan chatbot AI untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara personal. Alasannya sederhana, mereka merasa lebih dipahami.Β 

Sementara di Indonesia, data dari Smpantura (2025) menunjukkan angka yang bahkan lebih mencengangkan. Sekitar 90 persen remaja mengaku lebih nyaman curhat ke chatbot AI dibandingkan ke teman atau orang terdekat.

Masalahnya, kenyamanan ini datang dengan harga yang tidak murah. Menurut penelitian Zhang, Li, Zhang, Yin, Yang, Gao, dan Li (2025) yang dipublikasikan dalam jurnal psikologi perilaku, mahasiswa yang aktif menggunakan chatbot AI menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Ketergantungan emosional terhadap AI terbukti berkorelasi dengan perasaan kesepian dan isolasi sosial.

Rekomendasi Untuk Anda

Penelitian lain yang dirujuk oleh American Psychological Association (APA, 2025), termasuk studi Zimmerman et al. dan van der Hof et al., juga menyebutkan bahwa keterikatan emosional yang kuat dengan chatbot AI dapat menghambat kemampuan remaja dalam membangun relasi sosial nyata, serta menyulitkan mereka dalam menjalin dan mempertahankan hubungan interpersonal di dunia nyata.

Bahasa percakapan chatbot AI yang cenderung β€œmenjilat” dan selalu menyenangkan penggunanya juga dapat menyebabkan remaja kesulitan dalam interaksi di dunia nyata.

Belum lagi risiko keamanan data, Survei Common Sense Media mendapati sebanyak 24 persen remaja telah berbagi informasi pribadi dengan pendamping AI, seperti nama asli, lokasi, dan rahasia pribadi. Mereka tidak sadar sebetulnya sudah memberikan data kepada perusahaan, bukan teman.

Singkatnya, AI memang mendengarkan, tapi tidak pernah benar-benar hadir.

Di sinilah Esok Tanpa Ibu terasa relevan secara emosional. Film ini berbicara tentang kehilangan figur yang seharusnya menjadi penyangga emosi. Bedanya, di dunia nyata hari ini, kehilangan itu tidak selalu karena kematian. Kadang karena kelelahan. Kadang karena jarak emosional. Kadang karena orang dewasa terlalu sibuk menjadi provider, yang akhirnya lupa menjadi listener.

Perenungan akhirnya bermuara pada pertanyaan, β€œKenapa rasa nyaman remaja pada Β AI tidak bisa ditemukan di lingkungan rumah, sekolah, atau pada inner circle?”. Esok Tanpa Ibu mengingatkan kita bahwa kehilangan figur emosional selalu meninggalkan ruang kosong. Di era AI, ruang itu β€œterancam” diisi oleh chatbot.

Β 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas