Laporan Wartawan Kontan, Fransiska Firlana
TRIBUNNEWS.COM - Usaha jasa pindahan menjanjikan lantaran semakin banyak orang tak mau repot saat mau pindahan rumah atau kantor. Empat tahun terakhir, jasa pindahan profesional makin marak. Sebagian besar pasarnya adalah kalangan menengah atas.
Potensi usaha jasa pindahan yang menyasar segmen menengah atas masih terbuka lebar. Sebab, di segmen ini, aktivitas tak sekadar mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga memindahkan dan mengangkut barang dengan aman.
Tengok saja jumlah mitra Raja Pindah yang terus bertambah sejak menawarkan kerja sama waralaba pada Agustus 2011. Saat itu, Raja Pindah baru memiliki tiga cabang. Kini, perusahaan yang berbasis di Surabaya ini memiliki 13 mitra
di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dan tujuh mitra di Semarang, Surabaya, Makassar, Banjarmasin, Balikpapan, Jambi, dan Lampung.
Panca Firdaus, Business Development Manager Raja Pindah, mengatakan, potensi bisnis pindahan masih besar. Sebab, banyak orang yang tidak mau direpotkan dengan urusan pindahan. “Orang yang mau pindah itu mesti merapikan dan mengepak barang, lantas mengangkut dan menurunkan barang, selanjutnya merapikan kembali. Ini pekerjaan yang sangat melelahkan,” paparnya.
Jenis orang yang tidak mau repot ini biasanya menggunakan jasa pindahan full services. Dengan menggunakan jasa ini pengguna jasa tinggal terima beres dengan membayarkan uang jasa.
Mahfud Hidayat, pemilik Japa Movers, bilang bahwa orang yang tidak mau repot dalam urusan pindahan semakin banyak. “Dulu, jasa ini hanya dimanfaatkan oleh konsumen kelas atas atau ekspatriat. Tapi, sejak empat tahun terakhir, segmen menengah mulai menggunakan jasa ini,” paparnya. Baik Raja Pindah maupun Japa Movers sepakat, saat ini mayoritas (70% –80%) pengguna jasa ini merupakan penghuni perumahan dan apartemen. Sisanya merupakan konsumen pindahan kantor atau instansi.
Yulianti Ekasaputri, pegawai administrasi Mitra Mover, mengatakan bahwa dalam seminggu, paling tidak pihaknya mendapatkan orderan pindahan dua kali hingga tiga kali. Omzetnya sekitar Rp 9 juta per minggu atau sekitar Rp 36 juta per bulan. “Biaya jasa ini terbilang cukup mahal. Risiko pekerjaan ini juga tinggi, yakni menghindari kerusakan barang. Selain itu, biaya kemasan atau material pengepakan juga mahal,” ujarnya.
Tentukan muatan
Dalam bisnis jasa pindah profesional, tarif dihitung berdasarkan volume barang atau muatan dengan menggunakan satuan per meter kubik (m³). Dalam penawaran layanan, sebaiknya Anda memberikan persyaratan minimal volume barang. Para pelaku jasa pindah biasanya mengenakan persyaratan minimal 10 m³ per order.
Sebelum mengerahkan tenaga kerja ke lokasi, sebaiknya Anda melakukan survei terlebih dahulu ke pemberi order. Tujuannya untuk menghitung bobot muatan. Dengan begitu, Anda bisa menentukan armada apa yang digunakan dan jumlah tenaga kerja yang dikerahkan.
Untuk mendapatkan calon pengorder memang gampang-gampang susah. “Paling efektif memakai media internet untuk promosi dan memiliki website sendiri,” ujar Yulianti. Maklum, pengguna jasa pindah profesional biasanya kelompok menengah atas yang punya akses internet untuk mencari informasi. Nah, untuk meyakinkan calon klien, berilah alamat dan kontak yang jelas serta foto-foto layanan yang Anda berikan.
Yulianti bilang, selama tiga tahun berdiri, Mitra Mover hanya mengandalkan media online sebagai media promosi. Hasilnya, sudah ada ratusan klien yang memakai jasa Mitra Mover. Selain itu, ada lebih dari 35 perusahaan yang menggunakan jasa pindahan ini, di antaranya L’Oreal Indonesia, Malaysia Airlines, Andalan Finance, Bank Mega, dan Intercontinental Bali Resort.
Sementara itu, selain menggunakan media online, Japa Movers juga menggunakan media offline seperti membagi brosur dan kartu nama. “Misalnya, ketika dapat order di kantor, kami juga membagi brosur dan kartu nama,” kata Mahfud yang sebelumnya cukup lama bekerja sebagai tenaga pemasaran di perusahaan pindahan profesional.
Baca tanpa iklan