Starbucks pun menganggarkan dana sebesar US$ 20 miliar guna melakukan buyback dan memberikan dividen selama tiga tahun ke depan.
Analis mengatakan tekanan di China seharusnya bersifat sementara karena pembatasan mereda dan Starbucks yang berbasis di Seattle membuka lebih banyak toko di ekonomi terbesar kedua di dunia untuk mendorong pertumbuhan.
Penjualan sebanding global naik 17% pada kuartal yang berakhir 3 Oktober, dibandingkan dengan perkiraan rata-rata analis pertumbuhan 18,5%, menurut data Refinitiv IBES.
Laba per saham Starbucks sebesar US$ 1 per saham berdasarkan penyesuaian, hampir mengalahkan perkiraan 99 sen.
Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
Artikel ini tayang di Kontan dengan judul Penjualan Starbucks meleset karena kebangkitan Covid-19 di China