News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Industri Semen dan FMCG Sektor Paling Agresif Adopsi Energi Surya

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PLTS BESS - Proyek PLTS dengan teknologi penyimpanan energi Battery Energy Storage System (BESS) yang dikembangkan SUN Energy di PT Cipta Kridatama

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Adopsi energi terbarukan oleh sektor industri di Indonesia terus berlanjut dan menunjukkan tren pertumbuhan. Data di PLN mencatat jumlah pelanggan PLTS Atap kini mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas terpasang sekitar 772,9 MW.

Di sisi lain, fakta juga menunjukkan berbagai inisiatif dekarbonisasi oleh dunia usaha masih kerap dijalankan secara terpisah di tingkat fasilitas perusahaan.

Di Indonesia, sektor-sektor dengan intensitas pemakaian energi yang tinggi seperti industri semen, industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods), kertas, kemasan plastik, elektronik, dan komponen otomotif saat ini menjadi yang paling agresif dalam adopsi energi surya.

Baca juga: Danantara Sinergikan BUMN Bangun Huntara Aceh Tamiang, PLN Pastikan Listrik Menyala di Semua Unit

Dari sisi wilayah, pemanfaatan energi surya paling banyak diserap oleh industri yang berada di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Banten. Data-data tersebut mengacu pada realisasi implementasi energi surya oleh perusahaan pengembang proyek energi surya SUN Energy di Indonesia.

Saat ini perusahaan mengoperasikan proyek energi surya dengan kapasitas total 420 MW di empat negara dan mampu menghasilkan lebih dari 650 juta kWh listrik bersih, serta berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon hingga 506 juta kg CO₂, setara dengan penanaman 5,9 juta pohon per tahun. 

Di Indonesia, perusahaan ini telah mengembangkan proyek PLTS sektor industri dengan kapasitas terpasang mencapai 240 MW dan menjadikannya sebagai salah satu pengembang proyek energi surya terbesar di Indonesia.

Namun implementasi energi surya menghadapi sejumlah tantangan. Satu diantaranya adalah realita pemasangan sistem energi bersih oleh perusahaan yang belum terintegrasi antar lokasi produksi.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan pemantauan data energi secara terpusat, serta kompleksitas operasional di perusahaan dengan banyak site membuat upaya penurunan emisi sulit dikelola secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Baca juga: Sistem Kelistrikan Nasional Tetap Andal, PLN Sukses Jaga Layanan di Pergantian Tahun

CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar mengatakan, pengembangan teknologi akan menjadi kunci utama dalam mempercepat dekarbonisasi industri ke depan. 

Implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) secara penuh oleh Uni Eropa tahun 2026 ini menjadi salah satu contoh urgensi paling dekat yang mendorong pelaku industri di Indonesia untuk mempercepat langkah dekarbonisasi secara terukur dan berkelanjutan.

“Memasuki 2026, fokus kami tidak hanya pada proyek energi surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), khususnya untuk sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional kompleks seperti pertambangan, manufaktur berat, serta sektor-sektor potensial lainnya," ujar Emmanuel dikutip Senin, 5 Januari 2025.

Keberhasilan implementasi teknologi CBESS di sektor pertambangan menandai perluasan solusi perusahaan dari pembangkitan energi surya menuju sistem energi terintegrasi yang mampu menjawab kebutuhan operasional industri dengan karakteristik beban tinggi dan fluktuatif.

"Penerapan containerized BESS ini memungkinkan optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan keandalan pasokan listrik, serta pengurangan ketergantungan terhadap sumber energi fosil di area operasional tambang," ungkapnya.

Baca juga: Tarif Listrik PLN per kWh Januari 2026 Tidak Mengalami Kenaikan, Simak Daftar Lengkapnya

Keberhasilan ini juga membuka peluang replikasi solusi serupa pada sektor-sektor lain dengan kebutuhan energi kritikal, seperti manufaktur berat, smelter, hingga kawasan industri terpadu berskala besar.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini