TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Kementerian ESDM RI dan PLN menyelenggarakan kegiatan National Solar Transition Forum 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.
AESI adalah organisasi nirlaba yang berdiri pada 15 Desember 2016 untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia.
AESI berfungsi sebagai forum komunikasi dan kerja sama antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, BUMN, swasta, hingga lembaga internasional.
Dalam kegiatan ini hadir perwakilan dari lembaga-lembaga negara seperti Kementerian ESDM RI, Kementerian Koperasi, Kementerian UKM, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Danantara, hingga perwakilan negara-negara sahabat seperti India, Pakistan dan Thailand serta beberapa tokoh energi Nasional.
Kegiatan ini dibuka oleh Ketua AESI, Mada Ayu Habsari, yang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi 3.200 GW dari tenaga surya yang perlu segera dimanfaatkan.
“Potensi energi tenaga surya di Indonesia memiliki potensi sebesar 3.200 GW, dan hingga saat ini berdasarkan data dari PLN dan Kementerian ESDM telah tercapai 853 MW dari PLTS Rooftop, dan secara total telah tercapai telah mencapai 1.5 GW yang sudah terpasang," kata Mada Ayu, Kamis (23/4/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa target 100 GW dari tenaga surya dari Pemerintah harus selaras dengan beberapa hal, yaitu ; mempersiapkan regulasi, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), serta pembangunan infrastruktur.
“Target 100 GW dari tenaga surya harus selaras dengan persiapan regulasi, mengembangkan sumber daya manusia hingga pembangunan infrastruktur," tuturnya.
Selain itu, dalam kegiatan National Solar Transition Forum 2026 ini juga dibahas peran Koperasi Desa dalam mendukung Transisi Energi Nasional, seperti yang disampaikan oleh Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, yang dalam pemaparannya menyampaikan bahwa ada banyak potensi tenaga surya yang bisa dikelola oleh Koperasi Desa.
“Bahwa Koperasi Desa bisa mengelola banyak sektor dengan menggunakan tenaga surya seperti PLTS Cold Storage, Pompa Air Tenaga Surya hingga PLTS Rooftop Sekolah dan Pusat Kesehatan sehingga bisa dibuat skenario Desa 1 MW, serta saat ini sedang disiapkan perpres terkait 100 GW," jelas Mada Ayu.
Pandangan terkait kebutuhan tenaga surya datang dari Prof. Iwa Garniwa, Rektor Institut Teknologi PLN, yang menyampaikan terkait dengan persiapan Sumber Daya Manusia dalam menyambut industri tenaga surya.
"Permasalahan dalam mendukung industri tenaga surya adalah jumlah sumber daya manusianya, kualitas sumber daya manusianya serta kesiapan sumber daya manusianya, seperti dalam industri tenaga surya ini ternyata dibutuhkan ahli-ahli Geospasial," ujar Prof Iwa.
Dengan demikian, ia mendorong agar kurikulum tentang geospasial dipertajam lagi di lembaga pendidikan kampus untuk mempersiapkan SDM berkualitas.
"Saya sarankan agar ada kurikulum yang adaptif dan modular serta porsi praktik lapangan harus diperkuat," katanya.
Dalam kegiatan ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara AESI dengan PL Energy, MoU antara AESI dengan Kementerian Tenaga Kerja RI, MoU antara AESI dengan Pakistan Solar Asociation, serta adanya sesi pemaparan industri tenaga surya dari beberapa negara seperti India, Pakistan dan Thailand.
Baca tanpa iklan