News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penjualan Mobil Stagnan, Target 2 Juta Unit pada 2030 Dinilai Sulit Tercapai

Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Suasana pengunjung di penyelenggaraan pameran otomotif Gaikindo Jakarta Auto Week 2025 di ICE BSD Tangerang.

 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pemerintah telah menetapkan penjualan mobil pada 2030 akan mencapai 2 juta unit. Sayangnya, dalam 10 tahun terakhir performa penjualan mobil nasional justru stagnan hanya dikisaran 1 juta unit.

Hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menunjukkan keterjangkauan harga menjadi faktor utama yang menahan pertumbuhan pasar otomotif domestik.

Peneliti LPEM UI Syahda Sabrina mengatakan, stagnasi penjualan mobil tidak lepas dari melemahnya daya beli rumah tangga. Kenaikan pendapatan masyarakat dinilai tidak sebanding dengan lonjakan harga kendaraan.

Baca juga: Menyusutnya Kelas Menengah Jadi Pemicu Penjualan Mobil Nasional Stagnan Selama 10 Tahun

"Kita curiga isu yang paling besarnya itu adalah terkait dengan keterjangkauan atau affordability," tutur Syahda dalam diskusi yang diselenggarakan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2025).

Menurutnya, peningkatan pendapatan rumah tangga tidak mampu mengejar pertumbuhan harga mobil. Bahkan, jika dilihat dari upah riil, kenaikannya juga tertinggal dibandingkan inflasi. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara harga kendaraan dan kemampuan beli masyarakat.

LPEM UI kemudian mengkaji peluang pencapaian target penjualan 2 juta unit mobil baru pada 2030. Salah satu opsi yang dilihat adalah mendorong pembelian mobil pertama (first car buyer). Tetapi, ruang pertumbuhan dari segmen ini dinilai sangat terbatas.

"Kalau kita lihat dari data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), dari seluruh rumah tangga nasional itu hanya sekitar 13 persen rumah tangga yang belum memiliki mobil sama sekali," ungkap Syahda. 

Dengan komposisi yang tipis tersebut, kontribusi pembeli mobil pertama terhadap lonjakan penjualan dinilai tidak signifikan.

Opsi lain yang dikaji adalah mendorong pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru. Pergeseran ini, menurut LPEM UI, hanya bisa terjadi jika kesenjangan harga antara mobil baru dan mobil bekas dipersempit, baik melalui penurunan harga mobil baru maupun kenaikan harga mobil bekas.

Dalam survei terhadap 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, LPEM UI menemukan sekitar dua pertiga atau 962 responden awalnya berniat membeli mobil bekas.

Ketika disimulasikan harga mobil baru turun sekitar 10 persen, sebanyak 27 persen responden menyatakan bersedia beralih ke mobil baru. 

Baca juga: Ekspor Terganggu, Penjualan Domestik Turun, Industri Otomotif RI Perlu Insentif

Akan tetapi, ketika skenario yang diuji adalah kenaikan harga mobil bekas, potensi pergeseran sangat tipis, hanya sekitar 15 persen.

Kajian ini juga menyoroti pentingnya nilai jual kembali (resale value) kendaraan. Berdasarkan analisis data mobil bekas yang dihimpun melalui web scraping dari OLX, LPEM UI menemukan hubungan positif antara tingginya resale value dengan penjualan mobil baru.

"Ini menunjukkan bahwa sebenarnya kalau misalnya resale value dari mobil tersebut bisa dijaga setinggi mungkin, tidak jauh berbeda dari nilai jual OTR yang barunya. Itu sebenarnya penjualan mobil barunya tidak akan turun seperti itu atau dengan istilah lain depresiasinya tidak terlalu tinggi, itu penjualan mobil barunya bisa terjaga," ujar Syahda.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini