News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Cadangan Mencapai 31 Miliar Ton, Batu Bara Masih Jadi Penopang Utama Energi Indonesia

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BATU BARA BAGI INDONESIA - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno saat menyampaikan sambutan penbukaan Indonesia-China Global Energy Conference and Expo di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (11/5/2026). Tri menyebut batu bara masih berperan strategis bagi perekonomian nasional, mulai dari penyediaan listrik, penciptaan lapangan kerja, hingga kontribusi terhadap devisa dan penerimaan negara. Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya batu bara sebesar 143 miliar ton dengan cadangan sekitar 31 miliar ton yang menjadi modal penting ketahanan energi jangka panjang. (HO)

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Batu bara masih menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional di tengah derasnya arus transisi energi global. Pemerintah mencatat sekitar 60-69 persen kebutuhan listrik Indonesia hingga kini masih ditopang pembangkit berbasis batu bara.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan Indonesia tetap berkomitmen menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.

"Batu bara masih memegang peranan strategis bagi perekonomian nasional, mulai dari penyediaan energi listrik, penciptaan lapangan kerja, hingga kontribusi terhadap penerimaan negara, devisa ekspor, hingga menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional," ujar Tri dalam Indonesia-China Global Energy Conference and Expo di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Pasokan Batubara ke PLTU Tergerus, Listrik Nasional Terancam Padam?

Menurut Tri, Indonesia memiliki potensi sumber daya batu bara sebesar 143 miliar ton dengan cadangan sekitar 31 miliar ton. Potensi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menjamin ketersediaan energi nasional dalam jangka menengah maupun panjang.

"Selain menopang sektor energi, industri batu bara juga memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi nasional melalui royalti, PNBP, pajak, hingga devisa ekspor yang nilainya mencapai sekitar 25-30 miliar dolar AS," katanya.

Meski demikian, Tri mengakui industri batu bara menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari fluktuasi harga komoditas, peningkatan biaya operasional, hingga tuntutan penerapan prinsip environmental, social and governance (ESG).

Karena itu, pemerintah terus mendorong penerapan good mining practices dengan fokus pada keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, reklamasi pascatambang, efisiensi energi, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Di sisi lain, transformasi teknologi dinilai menjadi kunci meningkatkan daya saing industri pertambangan nasional. Pemanfaatan digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga sistem berbasis data disebut mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional tambang.

Tri juga menyoroti pentingnya kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan smart mining, clean coal technology, efisiensi energi, hingga penguatan rantai pasok dan logistik energi.

Selain transformasi teknologi, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi batu bara sebagai strategi peningkatan nilai tambah sumber daya nasional. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi impor LPG.

Menurut Tri, transisi energi harus dilakukan secara realistis, bertahap, dan berkeadilan sesuai kebutuhan masing-masing negara.

“Transformasi energi bukan berarti menghentikan pemanfaatan batu bara secara tiba-tiba, melainkan mengelolanya secara lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan demi mendukung kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Indonesia Coal and Energy Expo 2026 (ICEE 2026) resmi dibuka di Jakarta International Expo dengan mengusung tema “Cooperation for New Development in Energy”.

Ajang ini menjadi wadah kerja sama industri batu bara dan energi antara Indonesia dan Tiongkok, dengan fokus pada tambang hijau, batu bara bersih, pertambangan cerdas, dan integrasi energi baru.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini