News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

IHSG Anjlok Dua Hari, Kepercayaan Pasar Dinilai Kian Rapuh

Penulis: Erik S
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG ANJLOK - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Ringkasan Berita:

  • IHSG anjlok 5,91 persen ke level 7.828,47 akibat tekanan di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor energi dan barang baku.
  • Kejatuhan pasar dinilai mencerminkan melemahnya kepercayaan investor yang dipicu ketidakpastian kebijakan dan sentimen global.
  • Kondisi ini dikhawatirkan berdampak luas ke sektor riil, dunia kerja, hingga kehidupan sosial masyarakat.
  •  

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 5,91 persen atau terpangkas 492 poin ke level 7.828,47  pada perdagangan sesi I, Kamis (29/1/2026).

IHSG tertekan penurunan seluruh indeks sektoral. Sektor yang turun paling dalam adalah energi 8,04 persen, disusul barang baku 7,81 persen, properti dan real estate 7,52 persen, barang konsumer non primer 7,38 persen serta teknologi 6,86 persen.

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menilai peristiwa ini sebagai peringatan serius atas rapuhnya fondasi kepercayaan ekonomi nasional. 

Ketua DPP GMNI, Sujahri Somar, menegaskan bahwa guncangan pasar modal selalu memiliki implikasi yang jauh lebih luas dari sekadar angka indeks. Ketika kepercayaan investor runtuh, efeknya akan merambat ke sektor riil, dunia kerja, dan pada akhirnya kehidupan sosial masyarakat.

Baca juga: Presiden Prabowo Tak Tahu IHSG Anjlok Dua Hari?

“Pasar bukan sedang bereaksi berlebihan. Pasar sedang membaca arah kebijakan. Ketika sinyal yang ditangkap adalah ketidakpastian, maka yang terjadi bukan koreksi biasa, tapi kepanikan yang sistemik,” tegas Sujahri dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Menurut GMNI, sentimen eksternal seperti isu penyesuaian kebijakan indeks global oleh MSCI memang menjadi pemicu awal.

Namun, dampak tersebut menjadi jauh lebih destruktif karena lemahnya persepsi terhadap independensi Bank Indonesia sebagai benteng terakhir stabilitas ekonomi nasional. 

“Masalahnya bukan hanya MSCI. Masalahnya adalah ketika benteng moneter kita dipersepsikan tidak lagi netral. Dalam kondisi seperti itu, satu sentimen negatif kecil bisa berubah menjadi gelombang besar,” ujar Sujahri. 

Sujahri menjelaskan bahwa independensi bank sentral bukan isu elitis, melainkan soal kepercayaan publik dan pasar.

Bank sentral yang dipersepsikan dekat dengan kekuasaan politik akan selalu dicurigai mengambil keputusan berdasarkan kepentingan jangka pendek, bukan stabilitas jangka panjang. 

“Investor butuh kepastian bahwa kebijakan moneter dibuat dengan kepala dingin, bukan dengan pertimbangan politik. Begitu keyakinan itu hilang, modal akan mencari tempat yang lebih aman,” katanya. 

GMNI menilai derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan tekanan terhadap pasar keuangan menjadi pemicu awal krisis ekonomi. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan menjalar ke sektor perbankan, pembiayaan usaha, hingga daya beli masyarakat. 

“Krisis ekonomi selalu dimulai dari krisis kepercayaan. Dan krisis kepercayaan selalu dimulai dari kebijakan yang tidak transparan,” tegas Sujahri. 

Lebih jauh, DPP GMNI mengingatkan bahwa krisis ekonomi tidak pernah berhenti di ruang pasar. Sejarah menunjukkan, ketika stabilitas ekonomi terguncang, kelompok masyarakat paling rentan akan menjadi korban pertama. 

“Ketika pasar goyah, yang pertama terdampak bukan elite, tapi pekerja. PHK, harga naik, akses kredit menyempit—di situlah krisis sosial mulai tumbuh,” ujar Sujahri. 

Ia menegaskan bahwa jika kepercayaan terhadap institusi ekonomi negara terus tergerus, Indonesia berisiko menghadapi spiral krisis dari pasar keuangan, ke sektor riil, hingga ketegangan sosial. 

“Jangan anggap ini sekadar urusan grafik saham. Ini soal dapur rakyat. Kalau ekonomi runtuh, stabilitas sosial ikut runtuh,” katanya. 

GMNI, lanjut Sujahri, menilai penempatan figur berlatar belakang politik dalam jabatan strategis  Bank Indonesia berisiko merusak kredibilitas kebijakan moneter dan menjadi pemicu krisis ekonomi yang lebih luas. 

Sujahri mengatakan pihaknya mendesak pemerintah dan BI memberikan jaminan terbuka bahwa kebijakan moneter ke depan bebas dari intervensi politik. 

“Pasar butuh kejelasan, rakyat butuh kepastian. Tanpa itu, ketidakpastian akan berubah 
menjadi krisis.” 

Pernyataan Menteri Keuangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali pulih pekan depan setelah ditutup anjlok 7,34 persen ke level 8.320,55 pada penutupan perdagangan, Rabu (28/1/2026).

Anjloknya harga saham di IHSG dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan evaluasi perubahan saham di bursa Indonesia dan memicu sentimen negatif di kalangan investor asing.

"Ini kan masih shock, besok akan flat. Minggu depan lah Anda lihat minggu depan lah akan balik. Karena fondasi ekonomi betul-betul kita perbaiki dengan serius," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Purbaya bilang, pemerintah berupaya memperbaiki fondasi ekonomi dengan serius. Saat ini, kata dia, IHSG masih mengalami tekanan hingga melemah ke level merah. 

Ke depan pihaknya akan lebih fokus memperbaiki fondasi ekonomi. Menguatnya fundamental ekonomi akan berimplikasi pada menghijaunya IHSG. 

Dia menilai, pelemahan IHSG di perdagangan Rabu kemarin hanya bersifat sementara. "Ini karena berita negatif tadi kan, kita tidak dianggap transparan, floating-nya enggak cukup besar sehingga bisa dipermainkan harganya seperti itu," kata dia.

"Banyak penggoreng-penggoreng di pasar saham yang bebas berkeliaran, untungnya banyak, sementara yang investor kecil mungkin sebagian dirugikan," ujarnya. 

Berdasarkan hasil diskusinya dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), evaluasi atas penilaian MSCI akan diselesaikan sebelum Mei 2026. 

Purbaya berencana menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI) jika IHSG tidak kunjung membaik hingga akhir Maret 2026. "Sekarang bulan apa? Ya kalau Maret, sampai akhir Maret enggak jalan saya akan ke sana sebagai Ketua KSSK," kata dia. 

Investor asing banyak melepas saham di Bursa Efek Indonesia pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan evaluasi perubahan saham di bursa Indonesia dan memicu sentimen negatif dengan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Rabu, 28 Januari 2026.

Asing mencatatkan net sell hingga Rp6,17 triliun. Saham-saham yang paling banyak dilepas adalah saham sektor keuangan dan saham industri tambang.
 
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG ditutup anjlok 7,34 persen ke level 8.320,55 pada penutupan perdagangan, Rabu (28/1/2026).

Sepanjang perdagangan IHSG bergerak di zona merah dengan level terendah 8.187 dan tertinggi 8.596. 

Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 60,85 miliar dengan nilai transaksi Rp 45,50 triliun. IHSG tertekan penurunan 753 saham, dan hanya 37 saham yang menguat serta 16 saham yang stagnan.

Kapitalisasi pasar BEI pun turun menjadi Rp 15.121 triliun  Rp 16.380 triliun pada saat penutupan bursa Selasa (27/1/2026).

Investor asing keluar dari bursa saham dengan net sell jumbo yakni Rp 6,17 triliun di seluruh pasar. Asing tercatat melepas saham-saham big caps perbankan. 

 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini