Ringkasan Berita:
- Pekan depan rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup melemah direntang Rp 16.870-16.920 per dolar AS
- Moody’s Ratings, menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Jumat (6/2/2026) sore, rupiah ditutup melemah dari Rp 16.842 per dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 16.876.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkap pelemahan ini seiring dengan penguatan indeks dolar AS.
Untuk perdagangan pekan depan, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu memprediksi rupiah akan fluktuatif, tetapi ditutup melemah direntang Rp 16.870-16.920 per dolar AS.
"Range untuk minggu depan Rp 16.750-17.200," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Jumat ini.
Ada sejumlah faktor dari dalam dan luar negeri yang mengakibatkan rupiah melemah pada hari ini.
Faktor pertama adalah hubungan antara AS dan Iran.
Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Oman pada Jumat sore di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Washington mengerahkan setidaknya dua armada angkatan laut di wilayah tersebut.
"Pasar berharap bahwa pembicaraan antara Teheran dan Washington akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas," kata Ibrahim.
Namun, ia menyebut AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan Jumat.
Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran.
Iran adalah produsen minyak utama, dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah.
Faktor kedua adalah data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada bulan Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar tahun 2009.
Data lain menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah ekspektasi.
Pasar tenaga kerja yang mendingin disebut memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini.
"Namun, pasar juga tidak yakin tentang kebijakan moneter AS di bawah Warsh. Mantan gubernur The Fed ini dipandang sebagai pilihan yang kurang dovish untuk peran puncak The Fed," kata Ibrahim.
Faktor Dalam Negeri
Faktor pertama adalah lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings, menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.
Perubahan itu disebut mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor.
Apabila kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun.
Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong di kelompok investment grade.
"Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto," kata Ibrahim.
Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia.
Faktor kedua adalah posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai US$ 154,6 miliar, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar.
Penurunan itu disebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
"Meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ibrahim.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
BI juga disebut terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
Baca tanpa iklan