News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rupiah Menguat ke Rp 16.805 Per Dolar AS Pada Senin Sore 9 Februari

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RUPIAH MENGUAT - Uang rupiah diantara dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Pada perdagangan Senin (9/2/2026) sore, rupiah menguat 71 poin dari Rp 16.876 per dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 16.805.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Senin (9/2/2026) sore, rupiah menguat 71 poin dari Rp 16.876 per dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 16.805.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkap penguatan ini seiring dengan indeks dolar AS yang melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 16.760-16.800," katanya dalam keterangan tertulis pada Senin ini.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.876 Per Dolar AS Pada Jumat 6 Februari 

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap sejumalah faktor eksternal yang memperkuat rupiah pada Senin ini.

Faktor pertama adalah hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pertemuan kedua negara tersebut, yang digelar di Oman, digambarkan sebagai diskusi yang positif. 

Kedua negara melakukan pembicaraan mengenai nuklir. Diskusi mereka masih akan berlanjut di masa mendatang.

"Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini," ujar Ibrahim.

Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Presiden AS Donald Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Iran.

Namun, menurut Ibrahim, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil.

Meski demikian, Iran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya.

Faktor kedua adalah sejumlah data ekonomi penting dari konsumen minyak terbesar di dunia.

Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sedangkan data indeks CPI akan dirilis pada hari Jumat.

"Data-data tersebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh," ujar Ibrahim.

Di Tiongkok, data CPI untuk Januari akan dirilis pada Jumat, memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai importir minyak terbesar di dunia.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini