TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengklaim harga daging ayam yang mengalami kenaikan bukan karena program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Budi, harga daging ayam saat ini justru cenderung stabil karena adanya kepastian penyerapan dari program tersebut.
"Coba teman-teman lihat, apakah banyak terus tiba-tiba harga melonjak karena MBG? Kan enggak ada," katanya di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Baca juga: Jelang Ramadan, Bapanas Klaim Harga Cabai, Bawang Merah dan Telur Ayam Terkendali
Budi menjelaskan, sebelum ada program MBG, harga daging ayam kerap berfluktuasi karena permintaan pasar yang tidak menentu.
Daging ayam sebelumnya sering mengalami naik turun harga mengikuti perubahan permintaan.
Dengan adanya MBG, permintaan dinilai menjadi lebih pasti, sehingga produsen ikut menyesuaikan tingkat produksi dengan meningkatkannya.
"Semua harga kan bagus karena produksinya terus meningkat dan karena permintaan menjadi pasti. Kalau dulu permintaan naik turun kan tergantung pasar," ujar Budi.
Ia mengatakan kenaikan harga daging ayam menjelang Ramadan ini karena kebutuhan masyarakat yang ikut meningkat.
Mengacu data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, ia menyebut saat ini rata-rata harga daging ayam secara nasional sebesar Rp 40.259 per kilogram (kg).
Karena harga tersebut merupakan rata-rata nasional, Budi mengatakan masih ada pasar yang menjual daging ayam lebih murah dari itu.
"Ada di pasar tertentu yang harganya Rp 40.000, ada juga di pasar tertentu yang harganya murah," katanya.
Namun, ia memastikan akan memeriksa lebih lanjut jika ada daging ayam yang dibanderol di atas rata-rata nasional.
Budi menduga ada dua faktor yang menyebabkan harga daging ayam naik menjelang Ramadan, yakni keterbatasan pasokan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
"Mungkin pasokannya kurang atau memang pasar itu tiba-tiba kebutuhannya meningkat," ujar Budi.
Baca tanpa iklan