News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kunjungan Prabowo ke Amerika

Presiden Prabowo Siap Teken Kesepakatan Tarif dengan AS, Ekonom Ungkap Dampaknya ke Ekonomi RI

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KESEPAKATAN TARIF - Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Washington, D.C., Amerika Serikat, untuk menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam agenda tersebut, Presiden turut didampingi Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat, salah satu agendanya menandatangani kesepakatan tarif resiprokal.

Langkah ini diproyeksikan tidak hanya menjaga kinerja ekspor nasional, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM hingga industri untuk memperluas pasar.

Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, mengatakan pemerintah terlihat serius mengupayakan perjanjian tarif yang terbaik dan menguntungkan bagi Indonesia.

Baca juga: Prabowo Sebut Kunjungannya ke AS untuk Hadiri Pertemuan Perdana BoP Hingga Kesepakatan Tarif Impor

“Presiden dan pemerintah tampak berkomitmen serta berupaya mendapatkan perjanjian tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia,” ujar Piter, Rabu (19/2/2026).

Menurutnya, sejumlah sektor unggulan Indonesia perlu menjadi prioritas dalam negosiasi dagang dengan AS.

Komoditas seperti crude palm oil (CPO), tekstil, alas kaki, serta karet selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia ke pasar AS dan memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok UMKM di dalam negeri.

Piter menilai kesepakatan tarif justru akan mendorong neraca perdagangan Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari neraca dagang Indonesia yang masih mampu mempertahankan surplus di tengah dinamika perang tarif global.

Sepanjang Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar USD 41,05 miliar.

Angka ini merupakan surplus ke-68 kalinya secara berturut-turut sejak Mei 2020.

“Terbukti kita masih bisa mempertahankan surplus neraca perdagangan. Saya kira kesepakatan baru antara Indonesia dan Amerika akan lebih menguntungkan Indonesia,” katanya.

Ekonom UGM, Eddy Junarsin, menambahkan komitmen perdagangan Indonesia dan AS juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas, terutama dalam menjaga hubungan bilateral dan posisi Indonesia di tengah persaingan global.

“Indonesia ingin tetap menjadi negara yang independen dan netral dalam konteks persaingan pengaruh global. Konstelasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum internasional,” ujarnya.

Menurut Eddy, kesepakatan tarif setidaknya dapat mengamankan neraca perdagangan dan transaksi berjalan dalam jangka pendek.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini