News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Saham

Penyebab Harga Saham BBCA dan Bank BUMN Makin Merosot, Sudah Layak Dibeli atau Dihindari?

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG MELEMAH - Pengunjung melihat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. alam sepekan terakhir, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,44% secara mingguan ke level Rp7.000. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saham perbankan, khususnya PT Bank Central Asia tbk (BBCA) dan bank BUMN mengalami tekanan dalam beberapa minggu terakhir.

Dalam sepekan terakhir, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,44 persen secara mingguan ke level Rp7.000. 

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi lebih dalam sebesar 5,59% di posisi Rp4.980 per saham.

Baca juga: Sesi Pertama Perdagangan Hari Ini, IHSG Anjlok 2,61 Persen ke 7.509 

Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 2,95% di harga Rp4.270 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun paling besar, yakni 6,14% jadi Rp3.670 per saham.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, saham perbankan masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dalam waktu dekat.

Wafi menyarankan investor jangka panjang untuk tetap menahan saham perbankan karena fundamental emiten masih solid.

Namun, bagi investor jangka pendek hingga menengah, ia menyarankan menunda pembelian hingga tekanan jual mereda dan muncul sinyal pembalikan arah.

"Tekanan terhadap saham bank juga dipengaruhi revisi outlook Indonesia oleh Fitch Ratings serta pelemahan nilai tukar rupiah," ujar Wifi dikutip dari Kontan, Minggu (8/3/2026).

Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.

Sentimen Eksternal

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Ahmad Iqbal Suyudi menyampaikan, tekanan pada saham perbankan dipicu keluarnya dana asing dari pasar domestik. 

Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

“Investor asing cenderung menghindari risiko sehingga terjadi capital outflow di saham-saham perbankan, terutama big banks,” ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, dalam sepekan terakhir arus keluar modal asing dari pasar saham perbankan diperkirakan mendekati Rp2 triliun. Ia memperkirakan pergerakan saham bank besar pada pekan depan masih cenderung stagnan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini