TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/4/2026) dibuka ke zona merah.
Sekitar pukul 09.09 WIB, IHSG sempat merosot 81,839 poin atau 1,16% ke level 6.944,943 dari posisi penutupan pekan kemarin 7.026,78.
Namun seiring dimulainya jam perdagangan, hingga pukul 10.09 WIB, IHSG mulai menguat tetapi masih di zona merah ke level 6.982.
Baca juga: Pelemahan Rupiah dan Melonjaknya Harga Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG
Adapunn nilai transaksi hingga pukul tersebut mencapai Rp6,15 triliun dengan melibatkan 11,78 miliar lembar saham.
Sedangkan jejeran top losers LQ45 pagi tadi, yakni
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 12,9%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 12,71%
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 5,08%
Top gainers LQ45 pagi ini terdiri dari:
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 7,02%
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,40%
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 1,37%
Sentimen Eksternal dan Internal
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, ada sentimen global dan domestik yang menyebabkan pasar saham Indonesia masih lesu.
Dari global ada sentimen tensi geopolitik, dimana Donald Trump telah menyatakan siap menyerang Iran secara frontal. Ancaman serangan AS ke Iran ini membuat investor global panik dan buru-buru beralih ke safe haven.
"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David.
Sementara itu dari domestik ada sentimen Program B50, dimana pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan tingkat pencampuran biodiesel berbasis sawit akan ditingkatkan menjadi 50 persen (B50) mulai 1 Juli dari sebelumnya 40 persen.
Dikhawatirkan, pengalihan berlebih CPO ke biodiesel berisiko memicu kenaikan harga minyak goreng dan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat serta memberikan sentimen negatif bagi sektor Consumer Goods.
Berbicara tentang potensi market pada 6-10 April 2026, David mengimbau investor dan trader untuk memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan harga minyak.
"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," tandasnya.
Ia menambahkan ketika harga minyak mentah bertahan di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi dalam APBN akan membengkak secara signifikan sehingga mengancam batas aman defisit fiskal negara.
Baca tanpa iklan