TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (9/3/2026) sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
Namun, jelang penutupan rupiah meninggalkan level Rp17.000 dan berakhir melemah 24 poin ke posisi Rp16.949 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.925 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah imbas kekhawatiran investor terhadap ketegangan kawasan Timur Tengah.
Baca juga: IHSG dan Rupiah Anjlok, Purbaya: Resesi Saja Belum, Ekonomi Masih Ekspansi
"Kondisi ini harga minyak melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui 100 dolar AS per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022," papar Ibrahim.
Kemudian di Asia, Inflasi indeks harga konsumen Tiongkok tumbuh 1,3% secara tahunan pada bulan Februari, menurut data pemerintah.
Ia menyebut, angka inflasi yang kuat terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang, karena permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.
"Inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan," paparnya.
Sedangkan dari dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia saat inimelampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran 70 dolar AS per barel.
Kondisi ini ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun.
"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%," tuturnya.
Melihat sentimen tersebut, Ibrahim pun memprediksi nilai tukar rupiah pada perdagangan besok masih akan tertekan.
"Perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.950 sampai Rp17.000," tuturnya.
BI Jaga Pasar
Sebelumnya, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
Baca tanpa iklan