Ringkasan Berita:
- Stok BBM Indonesia yang cukup untuk 20 hari ke depan tidak menandakan cadangan habis setelah itu karena storage bisa diisi ulang
- Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menekankan pentingnya edukasi publik dan peningkatan kapasitas penyimpanan nasional
- Pengalihan jalur impor BBM dari Selat Hormuz juga disarankan untuk menjaga pasokan di tengah ketegangan Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stok operasional BBM di Indonesia yang cukup untuk 20 hari ke depan tidak berarti cadangan akan habis setelah itu.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menekankan pentingnya edukasi publik bahwa ketersediaan 20 hari berkaitan dengan kapasitas daya tampung (storage) BBM, yang bisa diisi kembali secara berkala.
“Setelah 20 hari, stok di storage bisa diisi lagi. Jadi kondisinya sebenarnya baik-baik saja,” kata Komaidi saat menjadi pembicara pada Energy Iftar Forum 2026 di Jakarta belum lama ini.
Baca juga: Pesawat Pengisian BBM AS Jatuh di Irak saat Operasi Lawan Iran, Dipastikan Bukan Tembakan Musuh
Ia menekankan bahwa pemahaman publik terkait konsep storage ini penting agar tidak menimbulkan kepanikan, terutama menjelang momentum Idul Fitri yang meningkatkan konsumsi energi.
Komaidi membandingkan kapasitas Indonesia dengan negara lain di kawasan Asia-Pasifik. Vietnam hanya memiliki cadangan untuk 15 hari, Laos 10 hari, sementara Australia mampu menampung BBM hingga 50 hari.
Jepang bahkan memiliki stok hingga 254 hari karena negara itu bukan produsen minyak dan memiliki strategi penyimpanan yang jauh lebih besar untuk menjamin ketahanan energi nasional.
Selain edukasi, Komaidi menyarankan pemerintah dan Pertamina untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional, baik untuk minyak mentah maupun produk olahan.
“Idealnya, Indonesia bisa menyamai Australia yang mampu menampung hingga 50 hari, agar lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga dan pasokan global,” ujarnya.
Menyikapi ketegangan di Timur Tengah, Komaidi juga mendorong pengalihan jalur impor BBM dari Selat Hormuz ke jalur lain.
Baca juga: 15 Eksaminator: Kerugian Negara Rp2,9 Triliun di Kasus Terminal BBM Merak Tak Berdasar
Meski berdampak pada biaya operasional, langkah ini dinilai penting agar pasokan BBM dalam negeri tidak terganggu konflik geopolitik, termasuk ketegangan Iran–Israel–AS.
Energy Iftar Forum 2026 menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan praktisi energi untuk memperkuat koordinasi, merumuskan rekomendasi kebijakan, dan memastikan kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi menjelang Idul Fitri.
Forum ini diharapkan mendorong kolaborasi yang lebih erat dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional, memperkuat ketahanan sistem energi, serta menghadirkan strategi jangka panjang menghadapi dinamika pasar global.
Forum menghadirkan sejumlah tokoh dan praktisi energi, antara lain Ketua Umum ASPEBINDO Dr. Anggawira; Laode Sulaeman, Dirjen Migas ESDM; Komaidi Notonegoro; Budi Santoso, Direktur Perencanaan MIND ID; Putut Agung Nugroho, Sr Expert Project PT Pertamina; serta Tommy Jamail, praktisi energi. Diskusi yang berlangsung mencakup isu stok BBM, kapasitas storage, alternatif jalur impor, dan strategi pengelolaan energi menjelang puncak konsumsi di Hari Raya.
Baca tanpa iklan