News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Konflik Timur Tengah Memanas, BI Siaga Penuh Hadapi Gelombang Tekanan Rupiah Saat Libur Lebaran

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. BI memastikan stabilitas rupiah tetap dijaga selama libur Lebaran 2026 di tengah gejolak global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026.

Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, meskipun pasar keuangan domestik tutup selama libur Lebaran, perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan dan fluktuasinya dapat berdampak pada ekonomi Indonesia.

Baca juga: Selasa Pagi, Rupiah Menguat ke Level Rp 16.970 per Dolar AS

"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah," papar Destry, Kamis (19/3/2026).

Selain itu, Destry menyebut, Bank Indonesia juga akan langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Pergerakan Rupiah

Pada pekan ini, nilai tukar rupiah nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.

Tercatat, pada perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp16.997 per dolar AS.

Kemudian, pada hari berikutnya Selasa (17/3/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup stagnan di level Rp16.997.

Diketahui, pada Maret 2026, investasi portofolio di Indonesia mencatat net outflows sebesar 1,1 miliar dolar AS, berbalik arah dari net inflows 1,6 miliar dolar AS pada periode Januari-Februari 2026.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah mengalami pelemahan salah satunya akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz yang semakin memanas.  

Menurutnya, pasukan marinir Amerika Serikat sudah mendekati Selat Hormuz untuk melakukan serangan darat. 

Di sisi lain, Iran melakukan serangan balasan.  

“Ini mengindikasikan bahwa Iran masih sanggup untuk melakukan perlawanan,” ujar Ibrahim.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini