TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai mengalami penguatan, setelah Amerika Serikat-Iran sepakat melakukan gencatan senjata dua pekan
Sekitar pukul 12.23 WIB, rupiah di pasar spot menguat 0,55 persen ke Rp 17.011 per dolar AS.
Diketahui, kemarin rupiah ditutup melemah 0,41 persen ke Rp 17.105 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Makin Melemah Tembus Rp17.100, Bank Indonesia Janji Jaga Pasar dan Ini Dampaknya
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, gencatan senjata antara AS-Iran selama dua minggu membuat rupiah menguat.
Adapun salah satu kesepakatan dalam gencatan senjata itu adalah membuka Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membawa angin segar bagi ekonomi global karena selama ini harga minyak terus mengalami kenaikan dampak eskalasi tersebut.
“Setelah adanya gencatan senjata, pembukaan Selat Hormuz, harga minyak langsung terjun bebas,” papar Ibrahim.
Ibrahim melihat indeks dolar AS (DXY) juga ikut melemah dan berdampak pada penguatan mata uang rupiah saat ini. Sehingga rupiah hari ini diperdagangkan menguat cukup tajam hampir 100 poin.
“Rupiah dalam dua minggu ini kemungkinan akan menguat. Penguatan ini akan cukup signifikan. Proyeksi saya mengenai rupiah yang akan ke level Rp 17.120 per dolar AS kemungkinan besar akan terhenti dengan penguatan mata uang rupiah,” jelas Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini dikisaran Rp 17.100 – Rp 17.150 per dolar AS.
BI Jaga Pasar
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan, di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI).
Untuk itu, kata Destry, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market," papar Destry dikutip Rabu (8/4/2026).
Baca tanpa iklan