Ringkasan Berita:
- Pelatihan biomassa melibatkan kelompok tani dan masyarakat dari berbagai daerah.
- Limbah pertanian diolah jadi energi, dorong ekonomi sirkular berbasis desa.
- Biomassa dimanfaatkan untuk cofiring PLTU, bantu kurangi emisi karbon.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia bersama PT PLN berkolaborasi melaksanakan kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pelatihan pengelolaan biomassa melalui pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Program ini memperkuat komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun rantai pasok Biomassa berbasis masyarakat sekaligus mendukung kebijakan nasional dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang mendorong peningkatan bauran energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon secara bertahap.
Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari Kelompok Tani, BUMDes, dan Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) binaan PLN EPI dari berbagai daerah yang tersebar di Lombok Timur, Tasikmalaya, Cilacap dan Gunung Kidul mengikuti pelatihan pengenalan potensi biomassa, teknologi pengolahan, praktik produksi, hingga pengembangan model bisnis yang berorientasi pasar.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menegaskan, program ini merupakan bagian dari pendekatan sistematis perusahaan dalam memastikan keberlanjutan pasokan biomassa sebagai energi alternatif.
“Melalui program TJSL ini, kami mendorong masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari rantai pasok energi biomassa. Ini merupakan implementasi nyata ESG, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan aspek lingkungan,” ujar Mamit dikutip Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, biomassa memiliki peran strategis dalam program co-firing PLTU, yakni substitusi sebagian batubara dengan bahan bakar berbasis biomassa untuk menekan emisi karbon tanpa perlu membangun pembangkit baru secara masif.
Baca juga: PLN EPI Perluas Biomassa, Hokkop Situngkir Sebut Potensi 80 Juta Ton per Tahun
Mewakili PT PLN (Persero), Senior Manager Komunikasi & Umum PLN UID Jawa Barat, Krisantus H. Setyawan menyampaikan, pemanfaatan biomassa tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan menjadi energi memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat,” ujar Krisantus.
Dari perspektif akademisi, Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Zulfiadi, menekankan, biomassa memiliki keunggulan sebagai energi terbarukan dengan siklus karbon yang lebih berkelanjutan dibandingkan energi fosil.
“Biomassa memungkinkan siklus karbon yang lebih cepat dan terkontrol, sehingga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Baca juga: Produksi Energi Bersih Berbasis Biomassa Mencapai 1.101,59 GWh di 2025
Lebih jauh, ia menilai pengembangan biomassa berbasis masyarakat juga membuka peluang transformasi ekonomi daerah.
“Ke depan, daerah tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen energi berbasis biomassa yang mendukung kebutuhan nasional,” ujarnya.
Rismayadi, perwakilan Kelompok Tani Jaga Lembur Tani Makmur, menyampaikan, program ini membuka peluang pengembangan usaha biomassa berbasis masyarakat.
“Saya optimistis melalui pelatihan ini, limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan secara optimal menjadi sumber energi yang bernilai, sekaligus meningkatkan perekonomian kelompok tani di Desa Bojongkapol, Tasikmalaya,” ujarnya.
Baca tanpa iklan