News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Industri Pertambangan RI Masih Cerah, Batu Bara dan Nikel Jadi Penggerak Utama

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

INDUSTRI PERTAMBANGAN - Posisi Indonesia diproyeksikan semakin kuat, hingga mampu memimpin produksi nikel dunia dengan menguasai 74% pangsa pasar pada 2035.

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri pertambangan menjadi tulang punggung ketahanan energi dan ekonomi nasional, dengan batu bara dan nikel sebagai komoditas penggerak utama.

Berdasarkan Dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, permintaan listrik nasional diperkirakan meningkat 5,3% setiap tahunnya.

Hal ini mendorong proyeksi pertumbuhan konsumsi  batu bara yang stabil sebagai pilar utama produksi listrik tanah air.

Walaupun penggunaan energi baru terbarukan terus meningkat, batu bara tetap memegang peranan strategis dalam bauran energi nasional.

Baca juga: IAGL ITB: Akselerasi dan Hilirisasi Batu Bara dan Nikel Solusi Darurat Energi Indonesia

Di sisi lain, nikel muncul sebagai komoditas penggerak masa depan yang sangat krusial bagi transisi energi global.

Indonesia saat ini telah mengukuhkan posisinya dengan mendominasi produksi nikel global dengan menguasai 67% pangsa pasar.

Posisi Indonesia diproyeksikan semakin kuat, hingga mampu memimpin produksi nikel dunia dengan menguasai 74% pangsa pasar pada 2035.

Peran kontraktor jasa pertambangan menjadi semakin vital dalam kondisi ini, karena berfungsi sebagai enabler utama yang menjamin terciptanya efisiensi
dan produktivitas.

Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa,  Gahari Christine mengatakan, di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan.

"Karena itu, peran kontraktor menjadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," ucap Gahari dikutip Senin (4/5/2026).

Gahari yakin prospek industri pertambangan ke depan akan tetap kuat.

Baca juga: Serikat Buruh Ungkap Mirisnya Kondisi Pekerja di Tambang Nikel Morowali

Proyeksi untuk energi konvensional tetap stabil di tengah percepatan program hilirisasi nasional, dengan tingkat pertumbuhan per tahun (CAGR) sekitar 8%, sehingga total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035.

Selain unggul di sektor hulu, Indonesia juga tengah memimpin industri hilirisasi dengan penguasaan 45% pada  pangsa pengolahan (refining) nikel global.

Melihat potensi ini, Andalan berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional serta mempererat kemitraan strategis.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini