News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, IHSG Berakhir Menghijau Tapi Rupiah Terjun Bebas, Mengapa?

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas menghitung uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer, Jakarta Pusat. Pergerakan rupiah hari ini diprediksi melemah di level Rp 17.420 – Rp 17.460 per dolar AS.

Ringkasan Berita:

  • Ekonomi RI tumbuh 5,61 persen dan IHSG menguat, namun rupiah melemah ke atas Rp17.400 per dolar AS.
  • Tekanan berasal dari faktor global seperti konflik Timur Tengah, kenaikan suku bunga AS, dan arus modal keluar.
  • Faktor musiman seperti kebutuhan dolar untuk dividen, utang, dan haji turut menekan rupiah.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terjun bebas hingga di atas Rp17.400 per dolar AS, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 melesat ke level 5,61 persen.

Perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,17 persen secara harian ke Rp 17.424 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32 persen secara harian ke Rp 17.425 per dolar AS. 

Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, DPR Ingatkan Tantangan Global dan Tekanan Terhadap Rupiah

Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin berakhir menguat 85,1 poin atau sebesar 1,22 persen ke level 7.057,10.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan rupiah disebabkan dua faktor, yakni global dan musiman.

Faktor global tersebut, meliputi harga minyak tinggi akibat memanasnya kawasan Timur Tengah, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, dan terjadinya pelarian modal dari emerging market (pasar berkembang) termasuk Indonesia.

Sementara dilihat dari faktor musiman, ada permintaan terhadap dolar AS tinggi pada bulan April-Mei-Juni 2026.

Pada rentang waktu tersebut, ada pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, hingga kebutuhan valuta asing menjelang musim ibadah haji

"Nilai tukar sekarang ini undervalued (di bawah nilai fundamentalnya). Kedepan diyakini akan stabil dan menguat," ucap Perry di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026) malam.

"Fundamental kita kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,61 persen, inflasi rendah, kredit tumbuh tinggi, dan cadangan devisa kuat. Nah ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat," sambungnya.

Berpotensi Melemah Lagi

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah hari ini bergerak melemah di level Rp 17.420 – Rp 17.460 per dolar AS.

Menurutnya, data pertumbuhan ekonomi tidak mampu menahan pelemahan rupiah. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.

PERTUMBUHAN EKONOMI - Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Namun, jika dilihat secara triwulanan ekonomi Indonesia pada triwulan I mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen. (HO/IST)

Besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV tahun lalu atas dasar harga berlaku Rp 6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan senilai Rp 3.447,7 triliun.

Ibrahim melihat, rupiah justru semakin tertekan setelah meningkatnya eskalasi di Timur Tengah. 

“Sentimen pasar tetap rapuh setelah pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru,” ucap Ibrahim

Selain itu, ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.

"Ini berdampak terhadap penurunan produksi minyak Rusia hingga 10 persen. Sehingga ini berdampak pada harga minyak dunia, Bren maupun WTI," ujarnya.

Jika harga minyak dunia melambung, maka kebutuhan terhadap dolar AS akan meningkat karena transaksi banyak negara masih menggunakan mata uang negeri Paman Sam.

Ibrahim menyampaikan, perang AS-Iran maupun Ukraina-Rusia akan berdampak kepada kenaikan inflasi atau harga barang di berbagai negara menjadi naik dan akhirnya Bank Sentral Amerika maupun bank sentral lainnya mendongkrak suku bunganya.

Ketika suku bunga bank sentral naik, maka bunga obligasi maupun bunga bank akan ikut terkerek.

Kondisi ini, membuat investor yang sebelumnya menaruh uang di negara berkembang seperti Indonesia, akan kembali ke negaranya seperti Amerika karena investasi lebih terjamin keamanannya. Misalnya diobligasi negara AS.

Dengan kondisi sentimen negatif yang ada, Ibrahim pun menyebut pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan bisa sentuh Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini.

Dampak ke Masyarakat

Pelemahan rupiah membuat harga barang-barang menjadi naik, terutama yang komponennya yang dipenuhi dari impor.

"Kita sekarang sudah liat harga-harga mengalami kenaikan cukup signifikan," ujar Ibrahim.

Ibrahim mencontohkan, harga yang sudah pasti naik yaitu barang elektronik, obat, pupuk serta komoditas pangan seperti kedelai hingga gandum.

Terdapat komponen di pupuk yang masih impor yakni jenis NPK, Kalium (KCl), dan bahan baku fosfor. 

"Belum lagi harga plastik juga sudah mengalami kenaikan," paparnya.

Jika harga pupuk naik, maka produk pertanian dipastikan akan naik harganya.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini