TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terjun bebas hingga di atas Rp17.400 per dolar AS, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 melesat ke level 5,61 persen.
Perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,17 persen secara harian ke Rp 17.424 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32 persen secara harian ke Rp 17.425 per dolar AS.
Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, DPR Ingatkan Tantangan Global dan Tekanan Terhadap Rupiah
Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin berakhir menguat 85,1 poin atau sebesar 1,22 persen ke level 7.057,10.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, pelemahan rupiah disebabkan dua faktor, yakni global dan musiman.
Faktor global tersebut, meliputi harga minyak tinggi akibat memanasnya kawasan Timur Tengah, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, dan terjadinya pelarian modal dari emerging market (pasar berkembang) termasuk Indonesia.
Sementara dilihat dari faktor musiman, ada permintaan terhadap dolar AS tinggi pada bulan April-Mei-Juni 2026.
Pada rentang waktu tersebut, ada pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, hingga kebutuhan valuta asing menjelang musim ibadah haji
"Nilai tukar sekarang ini undervalued (di bawah nilai fundamentalnya). Kedepan diyakini akan stabil dan menguat," ucap Perry di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026) malam.
"Fundamental kita kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,61 persen, inflasi rendah, kredit tumbuh tinggi, dan cadangan devisa kuat. Nah ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat," sambungnya.
Berpotensi Melemah Lagi
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah hari ini bergerak melemah di level Rp 17.420 – Rp 17.460 per dolar AS.
Menurutnya, data pertumbuhan ekonomi tidak mampu menahan pelemahan rupiah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.
Baca tanpa iklan