News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Likuiditas Perbankan Masih Kuat, Tapi Kredit Konsumsi dan UMKM Melambat

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

INDIKATOR PERBANKAN- Head of Macroeconomic and Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina di Konferensi Pers Mandiri Macro and Market Brief Kuartal II 2026, Senin (11/5/2026). Pertumbuhan kredit perbankan nasional hingga Maret 2026 juga tetap terjaga, meski terdapat tantangan pada penyaluran kredit UMKM dan kredit konsumsi yang mulai melambat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kondisi likuiditas perbankan nasional dinilai masih sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga acuan.

Pertumbuhan kredit perbankan hingga Maret 2026 juga tetap terjaga, meski terdapat tantangan pada penyaluran kredit UMKM dan kredit konsumsi yang mulai melambat.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan, likuiditas perbankan secara umum masih cukup memadai, baik dalam wujud rupiah maupun valuta asing.

"Overall likuiditas perbankan itu masih cukup memadai, kita lihat baik dari sisi Rupiah maupun valas ya. Rasio Loan to Deposit-nya masih di kisaran yang sehat di overall-nya di 84,6 persen," tutur Dian dalam Konferensi Pers Mandiri Macro and Market Brief Kuartal II 2026 secara daring, Senin (11/5/2026).

Menurut data Bank Mandiri, pertumbuhan kredit per Maret 2026 sebesar 9,5 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tetap kuat di level 13,6 persen.

Meski demikian, Dian menilai pertumbuhan kredit antarsegmen masih belum merata. Kredit korporasi masih tumbuh cukup tinggi, sedangkan kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan kredit konsumsi menunjukkan perlambatan.

"Yang jadi highlight adalah pertumbuhan UMKM yang masih lambat dan juga pertumbuhan kredit konsumsi yang mulai menurun mengalami tren penurunan," ucapnya.

Baca juga: Ekonomi Kuartal II Diproyeksi Melandai, Bank Mandiri: Masih Tumbuh di Atas 5 Persen

Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) industri perbankan secara keseluruhan masih terjaga di level 2,1 persen.

Meski begitu, segmen UMKM tercatat memiliki rasio NPL tertinggi dibandingkan segmen lain, yakni mencapai 4,6 persen.

"Segmen UMKM rasio NPL-nya merupakan yang tertinggi saat ini di 4,6 persen. Segmen konsumen itu juga sedikit menunjukkan peningkatan," jelas Dian.

Menurut Dian, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan kredit ke depan dapat lebih merata di seluruh segmen ekonomi.

Baca juga: Pembiayaan UMKM Digenjot, Askrindo Telah Menjamin Kredit Usaha Rakyat Senilai Rp 1.125,9 Triliun

Di sisi lain, Bank Mandiri melihat adanya perkembangan positif dari komposisi penyaluran kredit. Selama beberapa kuartal terakhir, pertumbuhan kredit masih didominasi kredit investasi. Namun belakangan, kredit modal kerja mulai menunjukkan perbaikan.

"Kita lihat di beberapa bulan terakhir ini kredit modal kerja mulai ada sedikit peningkatan, in-line juga dengan pertumbuhan kredit overall-nya," terangnya.

Sektor konstruksi menjadi salah satu pendorong mulai bergeraknya kredit modal kerja. Hal tersebut sejalan dengan percepatan berbagai proyek pemerintah.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini