TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kondisi likuiditas perbankan nasional dinilai masih sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga acuan.
Pertumbuhan kredit perbankan hingga Maret 2026 juga tetap terjaga, meski terdapat tantangan pada penyaluran kredit UMKM dan kredit konsumsi yang mulai melambat.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan, likuiditas perbankan secara umum masih cukup memadai, baik dalam wujud rupiah maupun valuta asing.
"Overall likuiditas perbankan itu masih cukup memadai, kita lihat baik dari sisi Rupiah maupun valas ya. Rasio Loan to Deposit-nya masih di kisaran yang sehat di overall-nya di 84,6 persen," tutur Dian dalam Konferensi Pers Mandiri Macro and Market Brief Kuartal II 2026 secara daring, Senin (11/5/2026).
Menurut data Bank Mandiri, pertumbuhan kredit per Maret 2026 sebesar 9,5 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tetap kuat di level 13,6 persen.
Meski demikian, Dian menilai pertumbuhan kredit antarsegmen masih belum merata. Kredit korporasi masih tumbuh cukup tinggi, sedangkan kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan kredit konsumsi menunjukkan perlambatan.
"Yang jadi highlight adalah pertumbuhan UMKM yang masih lambat dan juga pertumbuhan kredit konsumsi yang mulai menurun mengalami tren penurunan," ucapnya.
Baca juga: Ekonomi Kuartal II Diproyeksi Melandai, Bank Mandiri: Masih Tumbuh di Atas 5 Persen
Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) industri perbankan secara keseluruhan masih terjaga di level 2,1 persen.
Meski begitu, segmen UMKM tercatat memiliki rasio NPL tertinggi dibandingkan segmen lain, yakni mencapai 4,6 persen.
"Segmen UMKM rasio NPL-nya merupakan yang tertinggi saat ini di 4,6 persen. Segmen konsumen itu juga sedikit menunjukkan peningkatan," jelas Dian.
Menurut Dian, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan kredit ke depan dapat lebih merata di seluruh segmen ekonomi.
Baca juga: Pembiayaan UMKM Digenjot, Askrindo Telah Menjamin Kredit Usaha Rakyat Senilai Rp 1.125,9 Triliun
Di sisi lain, Bank Mandiri melihat adanya perkembangan positif dari komposisi penyaluran kredit. Selama beberapa kuartal terakhir, pertumbuhan kredit masih didominasi kredit investasi. Namun belakangan, kredit modal kerja mulai menunjukkan perbaikan.
"Kita lihat di beberapa bulan terakhir ini kredit modal kerja mulai ada sedikit peningkatan, in-line juga dengan pertumbuhan kredit overall-nya," terangnya.
Sektor konstruksi menjadi salah satu pendorong mulai bergeraknya kredit modal kerja. Hal tersebut sejalan dengan percepatan berbagai proyek pemerintah.
Baca tanpa iklan