Ringkasan Berita:
- Rupiah ditutup melemah 114 poin ke Rp17.528 per dolar AS akibat kekhawatiran konflik AS-Iran dan penguatan dolar AS global.
- Ekonom menilai pelemahan rupiah diperparah faktor domestik seperti penurunan manufaktur, ketidakpastian fiskal, dan potensi capital outflow.
- Pasar juga mencermati isu MSCI, cadangan devisa, hingga pelebaran defisit fiskal yang membuat rupiah lebih rentan tertekan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) merosot di atas Rp17.500 per dolar AS.
Tercatat, rupiah ditutup ditutup melemah 114 poin ke Rp17.528 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.520- Rp17.580," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi.
Baca juga: IHSG Ambles 1,43 Persen, Nilai Tukar Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS
Pelemahan rupiah disebabkan kekhawatiran investor terhadap ketegangan di Timur Tengah, setelah negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tampak rapuh.
Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut, pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah.
"Jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai," paparnya.
Menurutnya, rupiah juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April, yang pertama dalam sembilan bulan, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.
"Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal," paparnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan penguatan indeks dolar AS atau DXY memang menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah mendorong investor kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS sehingga DXY mengalami penguatan.
"Tetapi kalau dibandingkan dengan beberapa mata uang Asia lain, pelemahan rupiah terlihat lebih dalam. Itu artinya ada faktor domestik yang membuat tekanan eksternal terasa lebih berat di Indonesia," kata Yusuf dikutip dari Kontan.
Yusuf menilai pasar mulai mencermati pelebaran defisit fiskal, penurunan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir, hingga potensi arus modal keluar setelah muncul perhatian terhadap struktur pasar keuangan Indonesia, termasuk dari MSCI.
"Tekanan global memang menjadi pemicu, tetapi fundamental domestik yang dipersepsikan melemah membuat rupiah lebih rentan mengalami overshooting,” ujar Yusuf.
Baca tanpa iklan