TRIBUNNEWS.COM - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara memperingatkan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir Juni apabila tren pelemahan yang terjadi saat ini terus berlanjut.
Pernyataan tersebut disampaikan Bhima dalam podcast bersama Refly Harun saat membahas kondisi ekonomi nasional, pelemahan rupiah, hingga dampaknya terhadap dunia usaha dan masyarakat.
"Kalau soal rupiah, saya hitung kalau pelemahannya per hari itu 0,5 persen, maka kita pada akhir Juni itu bisa tembus Rp20.000 per dolar," kata Bhima dikutip dari YouTube Refly Harun.
Menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sebagai persoalan yang hanya berdampak pada sektor keuangan atau investor.
Ia menilai masyarakat desa hingga kelas pekerja juga akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, hingga meningkatnya biaya hidup.
Bhima mengaku mendapat banyak keluhan dari kalangan industri, terutama sektor manufaktur dan otomotif yang mulai mengkhawatirkan kenaikan biaya produksi akibat pelemahan kurs.
Ia menyebut sejumlah perusahaan bahkan mulai menghadapi penurunan kapasitas produksi karena ketergantungan terhadap bahan baku impor.
"Kalau kurs terus melemah, banyak perusahaan bisa kolaps atau paling tidak mempersiapkan PHK massal karena biaya produksi meningkat," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bhima meminta pemerintah mengakui adanya tekanan ekonomi yang sedang terjadi dan tidak meremehkan dampaknya terhadap masyarakat.
Menurutnya, Indonesia tidak dapat memisahkan diri dari dinamika ekonomi global, sehingga gejolak eksternal seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, maupun ketidakpastian pasar keuangan dunia tetap akan berimbas pada kondisi domestik.
Baca juga: Rupiah Ambrol, Ferry Latuhihin Sampaikan Surat Terbuka untuk Prabowo: Pemerintah Bikin Blunder
Ia menilai sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar tetap dipertahankan meski ruang fiskal semakin terbatas.
Bhima mengingatkan bahwa pembiayaan program-program tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap APBN apabila tidak diimbangi dengan sumber pendanaan yang kuat dan berkelanjutan.
"Saya kira pemerintah harus mengakui bahwa ada tekanan ekonomi. Jangan denial. Ada situasi yang memang harus diperbaiki, ada kebijakan yang harus dievaluasi," katanya.
Bhima menambahkan pasar saat ini tidak hanya melihat besarnya program yang dijalankan pemerintah, tetapi juga memperhatikan kemampuan negara dalam membiayai program-program tersebut secara berkelanjutan.
Baca tanpa iklan