TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi ke level Rp18.000 di akhir Mei 2026, seiring banyaknya sentimen negatif dari dalam negeri dan luar negeri.
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), sekitar pukul 14.27 WIB, nilai tukar rupiah sudah merosot ke level 17.671 per dolar AS.
"Dengan kecepatan perlemahan saat ini, mungkin saja (tembus Rp18.000 per dolar AS," kata Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong kepada Tribunnews.com.
Baca juga: Rupiah Makin Ambrol, Kurs Dolar AS di Money Changer Tembus Rp17.750
Lukman menjelaskan, rupiah yang kembali melemah akibat sentimen ketidakpastian global, yang membuat investor global mengalihkan dananya ke instrumen lebih stabil dan aman atau safe haven, seperti dolar AS maupun emas.
"Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off (aksi jual) semua asset termasuk obligasi, saham, crypto dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi Jinping dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran," papar Lukman.
Kondisi global, terutama masih tegangnya konflik Iran-Amerika Serikat terkait Selat Hormuz, membuat harga minyak mentah dunia kembali naik.
Tercatat, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) berada di 111,24 dolar AS per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI/CLc1) naik ke 107,70 dolar AS per barel.
Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent sudah melesat sekitar 11,2 persen, dari posisi 100,06 dolar AS per barel pada 7 Mei 2026 menjadi di atas 111 dolar AS per barel.
WTI bahkan naik lebih tajam, dari 94,81 dolar AS menjadi 107,70 dolar AS per barel.
Selain itu, Lukman menyebut pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menganggap enteng pelemahan rupiah disambut negatif dari investor.
Prabowo seakan tidak memperdulikan pelemahan rupiah karena orang desa dalam kehidupannya tidak menggunakan dolar AS.
"Pidato Prabowo umumnya juga direspon negatif investor dan tidak mendukung rupiah," ucap Lukman.
Solusi Tahan Pelemahan Rupiah
Lukman menyebut, langkah paling penting pemerintah dan BI saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi kepanikan.
Baca tanpa iklan