Jika imbal hasil aset berbasis dolar tetap tinggi, investor akan meminta premi risiko yang lebih besar untuk menahan aset berdenominasi rupiah.
Kedua, kredibilitas kebijakan Bank Indonesia menjadi kunci penting.
Kenaikan suku bunga acuan ke level 5,25 persen menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas, namun pasar masih menunggu konsistensi komunikasi dan efektivitas intervensi yang dilakukan.
Ketiga, kinerja sektor eksternal perlu diperkuat mengingat pertumbuhan impor saat ini lebih cepat dibandingkan ekspor.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan juga mulai menyempit dibandingkan tahun sebelumnya.
Keempat, persepsi risiko terhadap Indonesia turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar.
Syafruddin mencatat credit default swap (CDS) tenor lima tahun yang berada di kisaran 90 basis poin serta yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sekitar 6,7% menunjukkan pasar masih meminta kompensasi risiko yang relatif tinggi.
Kelima, kualitas kebijakan fiskal akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin dikutip dari Kontan.
Syafruddin memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang yang lebih lemah, yakni Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada semester II-2026.
Titik tengah proyeksinya berada di kisaran Rp 18.150 hingga Rp 18.250 per dolar AS.
Baca tanpa iklan