Ringkasan Berita:
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak pada kegiatan operasional PT KAI (Persero).
- KAI harus mengeluarkan biaya lebih mahal untuk membeli suku cadang kereta api yang harus diimpor dari luar negeri.
- Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi juga menambah biaya operasional armada kereta api KAI karena selama ini KAImenggunakan BBM nonsubsidi untuk menjalankan lokomotifnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero Bobby Rasyidin mengataan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak pada kegiatan operasional perusahaan.
Misalnya, KAI harus mengeluarkan biaya lebih mahal untuk membeli suku cadang kereta api yang harus diimpor dari luar negeri.
Nilai tukar rupiah kembali melemah di level Rp17.887 per dolar AS atau merosot 0,39 persen pada pembukaan perdagangan, Rabu (3/6/2026) pagi tadi.
"Ke operasional KAI tentunya berpengaruhlah, kan ada sparepart. Sparepart masih kita beli dari luar gitu," kata Bobby kepada awak media saat ditemui di kompleks DPR Senayan, Jakarta, Rabu.
Bobby juga menyebut, bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan KAI sehari-hari adalah BBM nonsubsidi. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi saat ini sudah naik tajam.
Baca juga: Rupiah Makin Loyo dan Hampir Tembus Rp18.000, Begini Tanggapan Bank Indonesia
"Kemudian juga sebagian kita itu kan solar kita bukan subsidi, ya kan. Ada sebagian solar kita itu yang solar yang apa, diesel yang harga pasar juga," tegas Bobby.
Meski turut terkena dampak, Bobby memastikan, hingga hari ini belum ada opsi bagi perusahaan untuk menaikkan harga tiket kereta di seluruh jenis perjalanan untuk masyarakat dalam waktu dekat.
"Enggak ada, belum ada. Belum ada," tukas dia.
Baca tanpa iklan