News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Dampak Rupiah Tembus Rp18.000: Harga Oli Naik, Pedagang Tempe Pusing, Pengusaha Besar Ogah Ekspansi

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RUPIAH MELEMAH - Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta. Perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup turun 151 poin ke level Rp18.187 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.036 per dolar AS. 

Ghufron menyebut harga kedelai dalam tiga bulan terakhir mengalami kenaikan bertahap setiap minggu. Untuk saat ini, harga kedelai di kisaran Rp11.000 per kilogram.

"Harga kedelai naiknya itu per minggu di angka rata-rata Rp200-Rp300 per minggu. Dari beberapa bulan ini, yang tadinya dari Rp9.000-Rp9.500, sampai hari ini Rp11.000. itu kenaikan akumulatif," katanya.

Ghufron menambahkan, pasokan kedelai saat ini masih sepenuhnya bergantung pada barang impor, terutama dari Amerika Serikat. 

Tak sampai disitu, Ghufron juga menyebut sejumlah materi produksi lain ikut mengalami kenaikan signifikan, seperti plastik kemasan yang bahkan disebut naik hingga 80 persen.

"Kenaikannya ini bukan di bahan baku saja. sekarang garam naik. Apalagi plastik juga naik hingga 80 persen. Tentunya menjadi faktor kesulitan pengusaha tahu tempe untuk meningkatkan produksi," ucapnya.

Tunda Ekspansi

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menyampaikan, bagi dunia usaha, tantangan utamanya bukan hanya pada level nilai tukarnya, tetapi pada dampak yang ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. 

"Dengan ketergantungan impor bahan baku yang masih berada di kisaran 70 persen, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi," tutur Shinta kepada Tribunnews.

Menurutnya, tekanan besar di antaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya. 

Ia menyebut, kondisi ini semakin berat karena dunia usaha juga masih menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. 

"Dengan kata lain, saat ini pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan," ucapnya.

Meski demikian, Shinta menyebut, dunia usaha masih berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi. 

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar," papar Shinta.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini