TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dinilai mencerminkan meningkatnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Kenaikan tersebut juga menunjukkan pasar melihat fundamental ekonomi nasional dan kinerja korporasi dalam negeri tetap berada pada jalur yang positif.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan, penguatan pasar modal menjadi indikasi bahwa investor semakin percaya terhadap potensi jangka panjang perekonomian Indonesia.
"Kita tentu berterima kasih kepada seluruh investor yang menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi kita maupun fundamental perusahaan-perusahaan Indonesia. Kinerja yang baik tersebut membuat IHSG menguat cukup signifikan, termasuk rupiah yang juga menunjukkan penguatan," tutur Dony usai Flag Off BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 di Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2026).
Menurut Dony, gejolak pasar dalam jangka pendek merupakan hal yang lumrah karena dipengaruhi berbagai faktor dan sentimen.
Akan tetapi, dalam jangka panjang investor akan tetap mempertimbangkan kekuatan fundamental perusahaan maupun kondisi ekonomi suatu negara.
"Tentu ada isu dan sentimen yang cukup memengaruhi, tetapi pada akhirnya seluruh investor akan melihat fundamental daripada perusahaan maupun negara," ucap Dony.
Ia menilai sejumlah perusahaan nasional, khususnya badan usaha milik negara (BUMN), masih memiliki kinerja yang kuat di berbagai sektor strategis.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 1,54 Persen, Indeks Nikkei dan Kospi Meroket
Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar sekaligus meningkatkan nilai perusahaan.
"Teman-teman bisa melihat bahwa fundamental perusahaan kita, baik perbankan, tambang, infrastruktur maupun perusahaan BUMN lainnya semuanya bagus," terangnya.
Terkait aksi pembelian kembali saham atau buyback yang dilakukan sejumlah emiten BUMN, Dony menyebut langkah tersebut merupakan praktik bisnis yang wajar ketika manajemen menilai harga saham belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
"Buyback itu sebetulnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu pasti kita ambil. Sayang kan daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi dengan saham kita sendiri," jelas Dony.
Baca juga: BI: Investor Asing Masuk Lagi Sejak BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen
Ia optimistis ke depan minat investor terhadap Indonesia akan terus meningkat seiring terjaganya fundamental ekonomi nasional dan berlanjutnya transformasi di lingkungan BUMN.
"Kalau barang bagus, tentu sayang kalau tidak kita optimalkan," ungkap COO Danantara Indonesia tersebut.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu menyampaikan, pertumbuhan ekonomi juga perlu ditopang oleh aktivitas sektor riil, termasuk industri perumahan yang memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor usaha lainnya.
Baca tanpa iklan