Misalnya: “Labbaik Allahumma Hajjan”.
Setelah ihram, jamaah memasuki kondisi khusus yang disebut keadaan ihram, yaitu kondisi suci secara spiritual dengan sejumlah larangan yang harus dijaga.
Larangan ihram antara lain:
- Memotong rambut dan kuku
- Menggunakan wewangian
- Berburu atau membunuh hewan darat
- Melakukan hubungan suami istri
- Memakai pakaian tertentu (bagi laki-laki seperti pakaian berjahit yang membentuk tubuh)
Ihram menjadi sangat penting karena tanpa niat ini, seluruh rangkaian haji tidak dianggap dimulai.
Dalam praktiknya, terdapat tiga jenis haji (tamattu’, ifrad, dan qiran), yang memengaruhi jumlah ihram yang dilakukan, tetapi semua tetap wajib dimulai dengan ihram.
2. Wukuf di Arafah: Puncak Ibadah Haji
Wukuf adalah berdiam diri di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, mulai dari waktu Zuhur hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah.
Rukun ini merupakan inti dari seluruh ibadah haji.
Rasulullah SAW bersabda: “Haji itu adalah Arafah.”
Artinya, siapa yang tidak melaksanakan wukuf, maka hajinya tidak sah meskipun semua rangkaian lainnya telah dilakukan.
Saat wukuf, jamaah dianjurkan:
- Memperbanyak doa dan istighfar
- Berdzikir dan membaca Al-Qur’an
- Introspeksi diri (muhasabah)
- Memohon ampunan dan rahmat Allah SWT
Meskipun secara fisik hanya “berdiam diri”, wukuf adalah momen paling spiritual dalam haji.
Banyak ulama menyebut Arafah sebagai “hari pengampunan terbesar”.
Bagi jamaah yang sakit atau lemah, wukuf tetap sah selama mereka berada di wilayah Arafah dalam waktu yang ditentukan, meskipun dengan bantuan kendaraan atau kursi roda.
3. Tawaf Ifadah: Mengelilingi Ka’bah dengan Penuh Kepatuhan
Tawaf ifadah adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran setelah kembali dari Arafah dan Muzdalifah.
Ini merupakan salah satu rukun yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan.
Baca tanpa iklan