Ringkasan Berita:
- Dalam Islam, seorang muslim dianjurkan mendoakan keluarga atau kerabat yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji.
- Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya menukil riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa doa seorang saudara untuk saudaranya karena Allah merupakan doa yang mustajab.
- Memanjatkan doa saat melepas saudara kita yang akan berangkat haji merupakan kesunahan yang dianjurkan dan termasuk momentum mustajabnya doa.
TRIBUNNEWS.COM - Bacaan doa melepas keberangkatan jamaah haji kembali menjadi perhatian umat Islam menjelang musim haji karena dalam Islam, seorang muslim dianjurkan mendoakan keluarga atau kerabat yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji.
Tradisi ini kerap dilakukan oleh keluarga, kerabat, hingga masyarakat sekitar sebagai bentuk dukungan spiritual bagi para calon tamu Allah.
Doa yang dipanjatkan berisi harapan agar perjalanan menuju Tanah Suci berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.
Selain itu, momen pelepasan jamaah haji juga menjadi suasana haru karena perpisahan sementara dengan orang-orang tercinta. Tidak sedikit yang menitikkan air mata sembari mengiringi keberangkatan dengan doa tulus.
Bacaan doa ini juga mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian dalam kehidupan sosial umat Muslim.
Dengan iringan doa tersebut, diharapkan para jamaah dapat menunaikan ibadah dengan khusyuk dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Dikutip dari laman resmiMajelis Ulama Indonesia (MUI), berikut lima doa yang dapat dibaca ketika melepas keberangkatan ibadah haji, berdasarkan sejumlah riwayat hadis serta anjuran dari para ulama:
Doa agar Mendapat Perlindungan, Ampunan, dan Kemudahan
Doa ini diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani (wafat 360 H) dalam kitabnya. Doa tersebut cocok untuk dibaca saat melepas seseorang yang akan menempuh perjalanan jauh.
Kandungan doa ini mencakup perlindungan, bekal takwa, ampunan, dan petunjuk selama menempuh perjalanan.
Berikut lafaz doa yang dimaksud:
فِي حِفْظِ اللَّهِ وَفِي كَنَفِهِ، زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَوَجَّهَكَ فِي الْخَيْرِ حَيْثُ مَا كُنْتَ
Fī hifdhillāhi wa fī kanafihī, zawwadakallāhu at-taqwā, wa ghafara dzanbaka, wa wajjahaka fī al-khairi haitsu mā kunta.
Baca juga: Doa Haji Mabrur dalam Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Artinya: “Dalam perlindungan Allah dan dalam penjagaan-Nya. Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan di mana pun engkau berada.” (Ad-Du’a li Thabrani [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 259)
Doa Menitipkan Agama, Amanat, dan Penutup Amal
Doa ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i (wafat 303 H) dalam kitabnya. Di dalamnya memiliki makna yang sangat dalam lantaran berisi titipan tiga perkara penting, yaitu agama yang harus dijaga selama perjalanan, amanat (termasuk keluarga yang ditinggalkan), serta penutup amal seseorang.
Berikut lafaz doa yang dimaksud:
أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi’ullāha dīnaka wa amānataka wa khawātīma ‘amalika.
Artinya: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu.” (Amal al-Yaum wa al-Lailah [Beirut: Muassasah ar-Risalah], vol. 1, h. 357)
Doa Memohon Keberkahan dan Perlindungan
Imam Ibn Hibban (wafat 354 H) dalam kitab Shahih-nya menyebutkan bahwa selain dua doa di atas, ada pula doa yang dapat dipanjatkan oleh pihak keluarga untuk memohon keberkahan sekaligus perlindungan selama perjalanan.
Berikut lafaz doa yang dimaksud:
اللَّهُمَّ احْمِلْ عَلَيْهَا فِي سَبِيْلِكَ فَإِنَّكَ تَحْمِلُ عَلَى الْقَوِيِّ وَالضَّعِيفِ، وَالرَّطَبِ وَالْيَابِسِ فِيْ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Allāhumma ihmil ‘alaihā fī sabīlika fa’innaka tahmilu ‘alā al-qawiyyi wad-dla‘īfi, war-rathabi wal-yābisi fī al-barri wal-bahri.
Artinya: “Ya Allah, bawalah kami di atas kendaraan ini di jalan-Mu, karena sesungguhnya Engkau membawa yang kuat maupun yang lemah, yang basah maupun yang kering, di darat maupun di laut.” (Shahih Ibn Hibban [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 7, h. 418)
Doa Memohon Diterimanya Ibadah
Imam Ibn Muflih al-Hanbali (wafat 763 H) dalam kitabnya menyebutkan bacaan doa yang dapat ditujukan kepada jamaah haji sebagai harapan agar seluruh perjuangan dan pengorbanannya diterima oleh Allah.
Berikut lafaz doa yang dimaksud:
تَقَبَّلَ اللَّهُ سَعْيَك، وَأَعْظَمَ أَجْرَكَ
Taqabbalallāhu sa’yaka, wa a’dhama ajraka.
Artinya: “Semoga Allah menerima usahamu dan melipatgandakan pahalamu.” (Al-Furu’ wa Tashih al-Furu’ [Beirut: Muassasah ar-Risalah], vol. 10, h. 233)
Doa agar Menjadi Haji yang Mabrur
Doa paling utama bagi orang yang berhaji tentu saja harapan agar memperoleh haji mabrur serta dosa-dosanya diampuni. Doa ini diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani (wafat 360 H) dalam kitabnya. Meski di dalam riwayat disebutkan bahwa doa ini dibaca oleh orang yang berhaji saat melempar jumrah, tetapi boleh juga dibaca oleh orang yang mengiringi keberangkatan ibadah haji saudaranya.
Berikut lafaz doa yang dimaksud:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
Allāhummaj’alhu hajjan mabrūran wa dzanban maghfūran.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hajinya sebagai haji yang mabrur dan dosanya sebagai dosa yang diampuni.” (Ad-Du’a li Thabrani [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 276)
Keutamaan Mendoakan Sesama Muslim
Mendoakan sesama muslim memiliki keutamaan besar. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya menukil riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa doa seorang saudara untuk saudaranya karena Allah merupakan doa yang mustajab.
عَنِ الصُّنَابِحِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ: أَنَّ دُعَاءَ الْأَخِ لِأَخِيهِ فِي اللَّهِ يُسْتَجَابُ
Artinya: “Dari ash-Shunabihi, bahwa ia mendengar Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: ‘Sesungguhnya doa seorang saudara untuk saudaranya karena Allah adalah doa yang dikabulkan.’” (Al-Jami’ al-Kabir [Kairo: al-Azhar asy-Syarif], vol. 14, h. 90)
Bahkan, para malaikat turut mengaminkan doa tersebut serta mendoakan kebaikan serupa bagi orang yang berdoa.
Oleh karena itu, saat mendoakan jamaah haji, sejatinya ia juga sedang membuka pintu kebaikan bagi dirinya sendiri.
Syekh Mulla al-Qari (wafat 1014 H) menjelaskan:
قِيْلَ: كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَخِيْهِ الْمُسْلِمِ بِتِلْكَ الدَّعْوَةِ، لِيَدْعُوَ لَهُ الْمَلَكُ بِمِثْلِهَا فَيَكُونَ أَعْوَنَ لِلِاسْتِجَابَةِ
Artinya: “Dikatakan bahwa sebagian kalangan salafusshalih apabila hendak berdoa untuk dirinya sendiri, terlebih dahulu ia mendoakan saudaranya sesama muslim dengan doa yang sama, agar malaikat mendoakan untuknya semisal itu pula. Dengan demikian, hal tersebut lebih membantu terkabulnya doa.” (Mirqah al-Mafatih Syarh al-Misykah al-Masabih [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 4, h. 1526)
Maka dari itu, memanjatkan doa saat melepas saudara kita yang akan berangkat haji merupakan kesunnahan yang dianjurkan dan termasuk momentum mustajabnya doa. Sehingga perlu kiranya untuk diperhatikan.
(Tribunnews.com/Rifqah)
Baca tanpa iklan