Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Jarum jam nyaris menyentuh angka 12, tapi kesibukan sudah terlihat di dapur Safwat Al-Wisam Company, Makkah, Senin (11/5/2026).
Seorang chef asal Indonesia tampak sigap memotong terong di meja persiapan, sedangkan di sampingnya mesin pemotong bawang terus bekerja tanpa henti.
Di ruangan lain, tumpukan kardus berisi bumbu instan mulai dari nasi goreng, ayam woku, hingga ayam rujak tersusun rapi. Bumbu ini didatangkan langsung dari Indonesia.
Tak jauh dari sana, gula merah, terasi, kacang-kacangan, serta ratusan tempe berlabel 'Malang' berjajar di rak bertingkat, menegaskan kuatnya sentuhan cita rasa Nusantara di dapur tersebut.
Baca juga: Sejarah Masjid Tanim, Ini Waktu Terbaik bagi Jemaah Haji Indonesia untuk Berkunjung
Aktivitas juga berlangsung di lantai dua. Sebuah mesin pemecah telur bekerja cepat, memisahkan cangkang dan langsung mencampur isi telur dalam satu proses.
Kemudian para koki tinggal mengolahnya dan menjadi paling disukai jemaah haji Indonesia. Selain rasanya familier, pengolahannya pun dijaga tetap sederhana tanpa campuran tepung.
Di dapur ini, kebutuhan makan jemaah haji dari sarapan hingga makan malam dipenuhi, dengan sekitar 6.200 jemaah Indonesia dilayani setiap hari.
Demi menjaga cita rasa Nusantara, pengolahan menu Indonesia ditangani khusus oleh empat koki asal Indonesia.
Bagi jemaah haji, kehadiran menu khas Nusantara tak hanya sebagai pengganjal lapar, tetapi juga penghibur di tengah kelelahan ibadah Arab Saudi serta pengobat rindu.
Hadirkan Cita Rasa Nusantara
Diketahui, layanan konsumsi bagi jemaah haji tahun ini melibatkan 51 dapur katering yang telah memenuhi standar dari pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi.
Dari dapur-dapur tersebut, makanan didistribusikan ke 177 hotel dan melayani 527 kloter jemaah.
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari mengatakan, layanan konsumsi jemaah haji Indonesia tahun ini mengalami sejumlah pembaruan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu perubahan utama adalah penerapan sistem digitalisasi layanan.
"Pengelolaan data konsumsi kini mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan. Ini membantu percepatan koordinasi dan penanganan di lapangan," ujarnya kepada tim Media Center Haji (MCH).
Baca tanpa iklan