TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Layaknya diskotek, La Meca, yang bangunannya menyerupai masjid, menyuguhkan musik dan tarian sensual.
Videonya yang terpantau di Youtube.com memperlihatkan bagaimana ramainya pesta di salah satu diskotek besar di daerah pantai selatan Spanyol itu.
La Meca tampaknya sudah heboh sejak pertengahan 2010. Salah satu video di Youtube memperlihatkan tanggal 19 Juni 2010.
Setelah heboh dengan kartun Nabi Muhammad, Eropa kembali bikin heboh.
Kali ini dengan night club atau klub malam dengan arsitektur bangunan dan desain interior menyerupai masjid. Namanya La Meca.
Disktotek La Meca terletak di Kota Aguilas, Murcia, selatan Spanyol.
Bangunannya dilengkapi kubah, mirip masjid. Sebagai diskotek, tentu pengunjung menenggak minuman keras, berdansa, dan bersuka ria.
Heboh mengenai diskotek berarsitektur masjid ini disebarkan melalui pesan berantai di BlackBerry Mesengger, lengkap dengan tautan (link) foto-fotonya.
Punya Kiper Real Madrid
Siapa pemilik klub malam di Spanyol yang menerupai masjid dengan nama La Meca? Ternyata ia seorang mantan kiper tim raksasa Real Madrid, Santiago Canizares.
La Meca merupakan diskotek yang paling populer di kota pesisir Aguila, di Murcia, Spanyol, pada 1980-an dan 90-an sebelum ditutup satu dekade lalu.
Kemudian diskotek ini kembali dibuka pada 18 Juni 2010 dengan nama yang sama, sehingga memicu kontroversi di kalangan umat muslim di negara tersebut.
Kontroversial tersebut semakin besar setelah hacker masuk ke website klub malam tersebut, kemudian memposting videonya.
Tentu saja hal tersebut akan mengancam peperang besar antara Spanyol dan orang-orang Islam di seluruh dunia, jika tempat tersebut tidak mengganti namanya.
Membesarnya kontoversial tersebut, akhirnya kepala Intelijen memperingatkan pemilik diskotek Santiago Canizares.
Karena saat ini mereka menjadi target ekstrimis muslim yang mengklaim diskotek tersebut telah menghina agama islam.
Kemudian Santiago Canizares pun setuju untuk mengganti nama klub malam miliknya setelah bertemu dengan para pemimpin Muslim di Spanyol.
Sebelumnya badan intelijen Spanyol, National Intelligence Centre , memperingatkan para pemilik atas ancaman yang dilakukan secara online yang dilakukan umat muslim moderat spanyol yang meminta supaya nama klub malam tersebut dirubah.
Kepala Federasi Entitas Agama Islam Spanyol Mohamed Ali, mengatakan bahawa mekah merupakan tempat orang mulim berdoa, dan tempat Nabi Muhammad menerima kitab suci Al-quran.
“Menggunakan nama La Meca untuk memanggil tempat yang digunakan untuk menari dan minum, itu mengabaikan perasaan umat Islam ,” katanya. Lanjutnya, “Padahal umat Islam selalu peka terhadap perasaan non-Muslim,” ujarnya.
Dikecam
Keberadaan Diskotik La Meca di Kota Aguilas, Provinsi Murcia, Spanyol, terus mendapat kecaman dari umat Islam Spanyol. Kecaman kali ini datang dari Ketua Federasi Kelompok Muslim di Spanyol, Mohamed Ali.
Ia mengungkapkan, pemilik diskotik tersebut seakan ingin menghina umat Islam dengan memberi nama diskotiknya seperti itu. La Meca bagi umat Islam Spanyol berarti Makkah.
"Umat Islam shalat menghadap ke Ka'bah di Makkah dan di sanalah Nabi Muhammad SAW menerima Alquran yang suci. Sementara diskotik itu tempat untuk minum-minum dan joget-joget. Nama diskotik itu seakan ingin mengabaikan perasaan umat Islam,'' kecam Mohamed Ali, seperti ditulis Andalus Press.
Mohamed Ali kembali mengingatkan bahwa Makkah adalah daerah paling disucikan umat Islam dari penjuru dunia.
Nama Makkah juga dikecam keras seorang pria keturunan Maroko yang bekerja di diskotik tersebut ketika mengetahui nama tempat hiburan itu sudah diganti menjadi Makkah.
"Diskotik adalah tempat untuk mencari kesenangan duniawi dan apa yang terjadi di dalamnya, seperti minum alkohol, tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam,'' tegas pendiri Komite Arbitrase Muslim dan Perbuatan Baik, Antonio García Petite.
Petite mengatakan, nama Makkah biasanya digunakan secara komersial untuk merujuk ke pusat atau tujuan dari suatu aktivitas tertentu.
"Ungkapan-ungkapan seperti 'Makkah sinema' dan 'Makkah Jazz' ... dan lain lain yang umumnya digunakan tanpa pelanggaran apa pun," katanya mencontohkan.
Namun, Petite menambahkan, nama Makkah tidak patut digunakan untuk diskotek. Karena itu pula, dia mendukung sikap pekerja Muslim di diskotik itu yang menolak melanjutkan bekerja.
Menurutnya, sikap itu sudah sesuai dengan keyakinan agamanya. "Kami mendukung pekerja itu," ujarnya.
Seperti diketahui, awalnya, diskotik tersebut tidak bernama seperti itu. Namun setelah 10 tahun direnovasi, diskotik tua itu tiba-tiba diberi nama Makkah.
Peresmian diskotik itu sebenarnya sudah dilakukan pada 18 Juni 2010, namun baru beberapa hari terakhirlah, umat Islam di Spanyol serentak memprotesnya.
Berita Terkait
* Night Club Menyerupai Masjid di Spanyol Menuai Protes
* Yayasan Islam California Selatan Memprotes La Meca
Baca tanpa iklan