Sebuah agensi mempekerjakan lelaki sebagai make-up artis.
"Tapi sebenarnya mereka tidak profesional, hanya karena ingin dekat-dekat dengan wanita saja yang di make-up nya. Tapi begitu wanitanya tidak suka, lalu ke luar, dia juga ke luar pula," ceritanya.
Mereka biasanya mengerjakan apa yang diinginkan sendiri.
"Tetapi otak mereka hanya mau main seks saja bersama para idola yang di make-up nya. Jadi saya merasa kasihan sebenarnya dengan para gadis yang akhirnya jatuh demikian untuk bisa muncul jadi seorang artis atau idola Jepang, dengan melakukan seks dulu," katanya.
Akhir-akhir ini banyak agensi di Jepang bermunculan tetapi lemah dalam hal profesionalitas karena tak punya uang cukup untuk bisnis mereka. Akhirnya juga sulit menjadikan gadis-gadis sebagai idola yang bisa sukses dijualnya.
"Jadi sebenarnya banyak agensi di Jepang yang memproduksi pada akhirnya hanya artis pemain film porno saja, bukan agensi yang profesional menggarap menjadikan artisnya sehingga nantinya memiliki nama besar," ungkap sumber majalah Spa tersebut.
Tribunnews.com menemukan beberapa agensi idola Jepang selama ini, ternyata juga pimpinannya kurang profesional.
Bahkan seorang lelaki, presiden agensi idola Jepang ternyata adalah mantan aktor film porno Jepang, yang akhirnya membuka agensi idola Jepang sendiri di Tokyo Jepang.
Baca tanpa iklan