Seorang warga Afghanistan yang berkeinginan mengubah perlakuan yang diterima LGBT adalah pegiat bernama Nemat Sadat, yang mengungkapan rahasia tentang dirinya kepada umum tiga tahun lalu.
"Saya ditinggalkan sebagian besar anggota keluarga dan kerabat yang sudah lebih lama tinggal di Barat daripada di Afghanistan," katanya kepada BBC dari Washington, tempat tinggalnya sekarang.
"Bahkan kelompok elit berpendidikan, orang yang belajar di Berkley dan Harvard, kesulitan menerima saya."
Saya mengenakan kosmetik up di depan cermin, memainkan musik, menonton TV dan menari.
Shamela
Sadat lahir di Afghanistan, tetapi dibesarkan di luar negara idan hanya kembali pada tahun 2012 untuk memulai karir akademis. Setelah menyatakan diri homoseksual secara terbuka dia kehilangan pekerjaan di universitas American di Kabul karena tekanan pemerintah Afghanistan.
Dia mengatakan dirinya berbicara dengan banyak warga LGBT Afghanistan saat di Kabul untuk mengetahui kehidupan mereka.
"Sama seperti tempat-tempat lain terdapat tempat pertemuan gay, seperti di tempat berolah raga, taman dan mal," katanya. "Tetapi sebagian besar pertemuan ini tidak berlanjut, kemungkinan hanya sekali bertemu."
Sama seperti kebanyakan orang yang hidup dengan keluarganya, dia mengatakan mereka tidak bisa membawa pulang pasangan, sehingga harus menyewa tempat seperti ruangan di belakang toko.
"Yang saya temukan secara umum adalah sangat sulit untuk membina hubungan dan pertemanan dalam jangka panjang. Orang LGBT terjebak Syariah Islam dan bahkan tidak bisa menuntut hak untuk hidup, apalagi menikahi orang yang mereka benar-benar cintai."
Hak di bawah tekanan
Shamela mengatakan dirinya senang memakai make up dan menari di dalam kamar terkunci.
Nemat Sadat berharap orang LGBT pada akhirnya akan mendapatkan hak dan kebebasan di masyarakat Muslim konservatif.
Tetapi bahkan di Barat, tempat tinggalnya sekarang, hak tersebut dalam tekanan dan sering kali baru saja diakui.
Dan bukan hanya Islam yang memandang homoseksual tidak bermoral karena di Jerman, misalnya, homoseksualitas pria masih diperlakukan sebagai suatu pelanggaran hukum sampai tahun 1994.
Shamela, transgender yang berusia 24 tahun, dilahirkan sebagai pria dan mengatakan selalu menyukai 'kegiatan perempuan', seperti bermain boneka dan bermain dengan anak perempuan sejak kecil.
Tetapi sekarang sebagai orang dewasa dia berusaha menyembunyikan kecenderungannya.
"Saya mengunci diri di kamar kecil seperti tahanan," katanya. "Saya mengenakan kosmetik up di depan cermin, memainkan musik, menonton TV dan menari."
Baca tanpa iklan