China Kebobolan Data Terbesar dalam Sejarah, 10 Petabyte Data Dicuri dari Superkomputer Tianjin
TRIBUNNEWS.COM - China mungkin tengah mengalami pencurian data terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Hal itu terindikasi lewat laporan yang menyebut kalau sebuah kelompok peretas diduga mencuri sejumlah besar informasi yang sangat sensitif.
Tak main-main, data yang diretas diyakini lebih dari 10 petabyte data, yang dilaporkan diekstrak dari Pusat Komputasi Super Nasional China (NSCC) di Tianjin.
Baca juga: Hacker Bobol Superkomputer China, 10 Petabyte Data Sensitif Diduga Dijual di Dark Web
Data-data super-sensitif dan rahasia tersebut, termasuk dokumen pertahanan rahasia dan skema rudal, dari superkomputer milik negara.
Perlu diketahui, Fasilitas Tianjin merupakan satu di antara tulang punggung kemajuan digital China.
Fasilitas tersebut berfungsi sebagai pusat infrastruktur utama yang mendukung lebih dari 6.000 klien, termasuk lembaga ilmiah terkemuka dan organisasi terkait pertahanan di seluruh Tiongkok.
"Analis keamanan siber yang memeriksa sebagian data yang bocor dan berkomunikasi dengan terduga pelaku penyerangan menyatakan bahwa akses ke sistem tersebut mungkin diperoleh dengan sangat mudah," kata laporan WN, Kamis (9/4/2026).
Menurut temuan mereka, ekstraksi data terjadi selama beberapa bulan tanpa terdeteksi.
Sebuah akun yang menyebut dirinya sebagai “FlamingChina” menerbitkan sampel dari dataset yang diduga tersebut di Telegram pada tanggal 6 Februari.
Kelompok tersebut mengklaim data tersebut mencakup “penelitian di berbagai bidang termasuk teknik kedirgantaraan, penelitian militer, bioinformatika, simulasi fusi, dan banyak lagi.”
Para peretas mengklaim informasi tersebut terkait dengan entitas besar Tiongkok seperti Aviation Industry Corporation of China, Commercial Aircraft Corporation of China, dan National University of Defense Technology.
Para ahli yang meninjau sampel tersebut mengatakan kelompok itu menawarkan pratinjau terbatas dengan harga ribuan dolar, sementara akses penuh dihargai ratusan ribu dolar, dengan pembayaran yang diminta dalam mata uang kripto.
Sampel tersebut dilaporkan mencakup dokumen yang diberi label "rahasia" dalam bahasa Mandarin, serta file teknis, simulasi, dan rendering visual perangkat keras militer seperti bom dan rudal.
Implikasi Intelijen
Fasilitas Tianjin, yang didirikan pada tahun 2009, adalah pusat superkomputer nasional pertama Tiongkok dan merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas dari pusat-pusat serupa di kota-kota seperti Guangzhou, Shenzhen, dan Chengdu.
Baca tanpa iklan